Tampilkan postingan dengan label Perempuan Cerdas Yang Menghasilkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan Cerdas Yang Menghasilkan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2022

Perempuan Cerdas yang Menghasilkan



“Kau ialah betina, kalau kau cuma tahu soal makan, tidur, bersolek dan kawin. Banyaklah belajar, berpikir besar, rancanglah masa depan dan pandai-pandailah menempatkan diri, maka kau boleh disebut Wanita. Tapi, untuk menjadi perempuan kau juga harus memiliki kesadaran, ketulusan dan bisa menjadi tempat berpulang serta kuat tuk dijadikan pijakan.” – Lenang Manggala, Perempuan Dalam Hujan : Sealbum Puisigrafi.


Jika kita meresapi kata tiap kata di dalam kutipan di atas maka dapat kita garis bawahi 3 kata yang menjadi perhatian, kata tersebut adalah betina, wanita, dan perempuan. Lenang Manggala seolah membuat derajat dari tiga kata tersebut. Sebutan betina yang biasa kita pakai untuk binatang, menempati tempat paling rendah, sebutan Wanita yang biasa kita pakai untuk manusia yang menempati lebih tinggi dari betina, dan perempuan yang juga biasa kita gunakan untuk manusia digambarkan lebih lenggap sehingga menempati urutan paling tinggi.


Berbicara mengenai urutan paling tinggi yaitu perempuan, maka yang terbesit dalam pikiran saya adalah perempuan yang tidak hanya cantik fisik akan tetapi juga cerdas dalam berpikir dan cakap dalam bertindak. Kenapa saya memilih perempuan untuk dibahas? Karena dunia terlalu keras jika seorang perempuan hanya tahu cara mengandalkan kecantikan fisik, terlebih rupa. Seharusnya perempuan saat ini harus menjadi penentu garda terdepan bangsa ini, bukan hanya bersolek saja.


Dimulai dari jenjang pendidikan di tingkat bawah SD, SMP, SMA, perempuan harus belajar mandiri, bersikap disiplin, cerdas intelektual, mapan spiritual juga. Karena apabila dijenjang tersebut perempuan sudah punya dasar seperti itu, maka kedepannya akan tertanam nilai-nilai yang baik untuk menuju masa depan bangsa yang unggul, dan kompetitif. Perempuan juga salah satu aset bangsa yang juga perlu untuk diperhatikan dan dibimbing. Mereka dari dasar harus diberikan materi yang bisa membangun karakter mereka dari sejak dini. Terlebih di lingkungan keluarga dimana para perempuan mendapatkan pendidikan dari nol, dari kedua orang tuanya terlebih ibunya.


Di tingkat perguruan tinggi seorang perempuan seharusnya jangan menjadi mahasiswi kupu-kupu , dimana habis kuliah selesai langsung pulang ke rumah atau ke kos masing-masing. Seharusnya para perempuan pembawa perubahan tidak hanya menghabiskan waktunya di dalam kelas, tetapi dengan ikut organisasi atau kegiatan ekstra kampus lain. Agar nantinya bekal untuk bermasyarakat bisa didapatkan dengan terorganisir. Belajar dalam bangku perkuliahan di dalam kelas bisa dikatakan hanya 40%, selebihnya kita harus dapatkan di luar kelas, salah satunya dengan berorganisasi.


Pentingnya berorganisasi disini adalah bagaimana kita sebagai perempuan untuk kedepannya bisa bersaing dengan kau adam. Meskipun kodrat sebagai perempuan tidak boleh melebihi laki-laki terlebih suami kita nantinya. Apalagi perempuan seperti kita yang sudah medapatkan materi gender dalam organisasinya, bagaimana cara bermasyarakat yang baik, menyusun program kerja dengan terencana dan rapi, semuanya menjadi bekal bagi perempuan untuk hidup bermasyarakat jika telah meninggalkan bangku perkuliahan.


Jangan hanya namanya membesar di kampus tapi mengecil kalau sudah balik pinggiran atau pulang ke kampung halamannya. Sudah banyak faktanya mahasiswa sekarang kalau di kampus namanya membesar sebagai ketua organisasi, ketua dema, dan lain sebagainya. Tetapi nama mereka mengecil ketika sudah ada di daerah asalnya. Memang yang paling penting dan yang paling utama adalah kesadaran dari individunya masing-masing.


Dewasa ini di kampus-kampus besar banyak mahasiwi hanya niat kuliah dengan ajang adu pamer kecantikan, make up yang tebal, fashion yang tidak sewajarnya, yang tidak mencerminkan kalau yang bersangkutan masih seorang pelajar. Pola gaya hidup inilah yang menjadi salah satu penghambat bahwa perempuan seakan menutup mata tentang pentingnya sosok perempuan yang cantik, cerdas, tangguh dan cakap. Modal perempuan seperti ini yang selalu mengagung-agungkan kecantikan rupa layaknya dewa.


Seiring dengan perkembangan zaman era milenial seperti saat ini, perempuan harus dihadapkan pada persoalan-persoalan rumit negara ini. Bagaimana tidak, adanya kasus korupsi, impor beras, kasus pembunuhan, permasalahan seperti ini bukan hanya menjadi tugas seorang laki-laki, akan tetapi juga menjadi tugas seorang perempuan sebagai warga Indonesia. Perempuan harus bisa menjadi agent of change bangsa ini.


Banyak sekali para perempuan Indonesia yang terjun dalam dunia politik, bahkan menjadi orang-orang terpandang di ranahnya. Salah satunya Ibu Risma (walikota Surabaya), Ibu Susi (mentri kelautan). Mereka adalah sosok kartini modern harapan bangsa. Di tangan mereka Indonesia diharapkan bisa lebih baik, berkompeten untuk bersaing dengan dunia luar.


Jangan karena kita sebagai perempuan, lantas kemudian kita takut untuk mecoba hal baru mengikuti jejak para kartini kita yang sudah berhasil memajukan negara kita dan berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Kita sebagai pembawa perubahan, masa depan bangsa ada di tangan kita maka sudah seharusnya kita juga ikut andil memajukan bangsa meskipun dari hal yang terkecil terlebih dahulu. Saat ini Indonesia benar-benar butuh pemuda yang tidak hanya pintar secara keilmuan, tetapi juga moralitas yang baik.


Kalau berbicara masalah orang pintar di negara kita, sebenarnya sudah terlalu banyak. Akan tetapi mirisnya, kepintaran yang mereka punya dijadikan sebagai alat untuk memperbudak rakyat kecil, membodohi rakayat kecil yang tidak tahu apa-apa. Mereka yang dijuluki “tikus berdasi”, seharusnya sadar bahwa mereka dipilih oleh rakyat karena sudah memberikan kepercayaan penuh terhadap wakil rakyat yang dianggap bisa menyalurkan aspirasi mereka dengan baik. Faktanya para wakil rakyat yang ada di kusi pemerintahan dengan seenaknya melakukan korupsi, berfoya-foya tanpa memikirkan rakyat kecil yang susah payah mencari sesuap nasi, menyekolahkan anaknya dan lain sebagainya.


Kesekian kalinya perlu ditekankan bahwa negara kita akan baik-baik saja, jika para penyelenggara negara dan jajarannya bisa mengemban amanah dengan baik, bisa memposisikan antara kepintaran akal dan akhlak dengan baik. Percuma banyak orang pintar tapi akhlaknya rusak mau dibawa kemana negara kita ini?.


Lagi-lagi disini perempuan harus bisa lebih baik lagi dari laki-laki. Kedepannya Indonesia akan dihiasi dengan wajah-wajah baru dari para kartini modern yang menduduki jabatan penting di kursi pemerintahan. Diharapkan dengan adanya wajah baru inilah yang akan membawa negara menjadi lebih baik dan bermartabat di kencah Internasional.


Untuk saat ini sosok perempuan yang benar-benar dibutuhkan bangsa adalah sosok perempuan yang bermoral baik, jujur, disiplin, mempunyai komitmen dan semangat yang tinggi, mau mengabdi dengan setulus hati kepada bangsa, pemimpin yang amanah dan memiliki sifat profesionalitas.