Tampilkan postingan dengan label Patah Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Patah Hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2022

Patah Hati

 


Patah hati menjadi hal yang hampir dirasakan oleh setiap manusia. Biasanya patah hati menjadi ide bagi para penulis untuk menulis cerpen patah hati. Tujuannya tak lain menghibur hati yang sedih lantaran dipatahkan oleh cinta.

Cerpen patah hati sering menjadi suatu hal yang dicari-cari, sebab terkadang cerpen patah hati dapat membantu kita dalam meluapkan segala emosi yang ada dalam diri kita.

Berikut adalah cerpen patah hati yang dapat dibaca di waktu luang anda

Bertepuk Sebelah Tangan

Malam kemarin, Dani mengirim pesan singkat kepadaku. Pesan itu berisi ajakan Dion untuk pergi menonton Bersama. Kebetulan memang film favorit kami baru saja tayang. Tanpa berpikir Panjang aku pun langsung mengiyakan ajakan itu.

Hari ini pukul 13.00 aku sudah bersiap menunggu kedatangan Dani. Ya, seperti biasa dia selalu datang terlambat. Namun, apapun kebiasaanya aku akan tetap memakluminya.

Aku dan Dani telah menjalin hubungan persahabatan selama kurang lebih lima tahun. Bukan waktu yang singkat bukan? Dan benar kata orang bahwa sulit bagi kami berdua untuk menjalin hubungan yang hanya sebatas persahabatan.

Mungkin tepatnya aku yang merasa kesulitan. Sebab, sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Aku telah menaruh hati padanya. Dan tak terasa, rasa ini tumbuh dan semakin lama semakin dalam.

Saat aku masih melamun memikirkannya, Dani datang dan langsung mengajakku berangkat.

“Yun, nanti aku mau ngomong deh sama kamu” ucap Dani sembari memberikan helm kepadaku.

“kalo mau ngomong mah ngomong aja, ga usah nunggu nanti sih. Mau ngomong apa emang?” jawabku menyelidik.

Dani yang sedari tadi ku lihat menyimpan senyum dalam bibirnya memilih untuk tak menghiraukan pertanyaanku.

Seperti biasa, kemanapun kita berdua pergi. Saat diperjalanan kami akan menyanyikan lagu tahun era 2000-an. Ya, kami sangat menikmati lagu-lagu di masa itu.

Meskipun waktu di jalan habis ku nikmati dengan bernyanyi bersama Dani, tak menutup rasa khawatirku tentang perkataannya sebelum berangkat. Selama kita berteman, belum pernah sekalipun dia berbicara seperti itu.

Pikiranku mulai berimajinasi. Aku berpikir mungkin Dani akan menyatakan perasaanya padauk. Karena akulah satu-satunya Wanita yang mengenal baik buruknya dia selama kurang lebih lima tahun ini. Tapi entahlah, aku juga masih ragu akan hal itu.

Sesampainya di bioskop, Dani Nampak seperti orang kebingungan.

“kenapa Dan? Ada yang ketinggalan?” tanyaku

Lagi-lagi Dani tak menjawab pertanyaanku. Aku pun melontarkan pertanyaan yang sama, namun dia sedang sibuk melihat-lihat sekitar. Melihat tingkahnya membuatku ingin duduk sembari menunggu waktu menonton tiba.

Ketika aku hendak berjalan ke arah tempat duduk, Dani meraih tanganku dan memanggil namaku.

“Yuna, tunggu dulu.” Ucapnya

Karena malas mengeluarkan suara, aku pun hanya mengangkat alisku sembari melepas genggaman tanganya.

“kenalin, pacar aku. Hani”

Mendengar hal itu, aku hanya terdiam. Hani pun muncul dari belakang tubuh Dani.

Ternyata dugaanku selama ini salah. Aku bukanlah satu-satunya Wanita selama lima tahun terakhir. Meskipun aku satu-satunya Wanita yang memahami baik buruknya Dani, namun bukan aku orangnya.

Karena aku tidak mau merusak suasana. Aku langsung menjabat tangan Hani dan langsung memperkenalkan diri.

“Yun, sebenernya aku udah lama kenal Hani. Tapi baru dua minggu ini aku menjalin hubungan dengannya. Karena kamu sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Maka kamulah orang pertama yang harus mengetahui tentang hubungan ini.”

Mendengar hal itu aku hanya tersenyum sembari mengejek Hani dan juga Dani.

Mungkin memang benar, bukan aku orangnya. Terkadang cinta memang tidak harus dipaksakan.