Tampilkan postingan dengan label Menabung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menabung. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Oktober 2022

Menabung




            Belajar menabung merupakan hal yang harus dibiasakan dari kecil. Kebiasaan ini bisa dimulai dengan membiasakan membaca cerpen tentang menabung.

            Cerpen tentang menabung dapat membantu pembaca mengetahui bagaimana pentingnya kebiasaan menabung melalui konsep cerita.

            Tentu dengan adanya cerpen tentang menabung ini diharapkan banyak orang yang akhirnya mau membiasakan diri menabung.

            Berikut adalah cerpen tentang menabung yang dapat membantu anda memahami konsep menabung.

            Hari itu, cuaca sangat panas. Aku pun berinisiatif untuk mampir ke rumah temanku yang bernama Hendra.

            Hendra merupakan kawanku sejak masih duduk di sekolah dasar. Namun karena keterbatasan orang tuanya, Hendra pun tidak melanjutkan sekolahnya.

            Setiap hari ia membantu ayahnya mencari sampah yang bisa dijual kembali. Semua uang yang ia dapatkan ia tabung untuk berobat ibunya yang sedang sakit.

            Ketika aku mampir ke rumahnya. Hendra menyambutku dengan sangat senang. Ia pun bertanya bagaimana sekolahku dan pelajaran seperti apayang aku dapat.

            Dengan sangat semangat aku pun menceritakan segala hal yang aku dapatkan di sekolah.

            Sampai akhirnya terdengar suara ibunya yang batuk. Hendra pun bergegas menuju kamar ibunya dengan membawa segelas air minum.

            “Bagaimana ibumu Hendra? Apakah baik-baik saja?” tanyaku yang ikut menghampiri ibu Hendra.

            “Seperti yang kau lihat Akbar. Masih sama saja. Aku belum memiliki uang yang cukup untuk membawa ibuku ke rumah sakit yang penanganannya lebih bagus.”

            Aku pun terdiam mendengar perkataan Hendra. Pasti kehidupan mereka tidak mudah untuk dijalani. Namun, mereka berusaha saling menguatkan untuk melanjutkan hidup.

            Aku pun diajak Hendra masuk ke kamarnya. Hendra ingin aku bercerita lebih lanjut mengenai kegiatan di sekolahnya.

            Beberapa saat setelah masuk ke kamar Hendra, aku sangat tercengang. Hendra memiliki lemari yang berisikan banyak sekali celengan.

            “Akbar, kamu ini kenapa? Seperti melihat setan saja.”

            “Hendra, ini semua celengan milikmu?” tanyaku yang masih tercengang.

            “Ya kamu pikir uangku, ku buang kemana? Habis dilahap celengan-celengan itu.”

            Aku mulai membaca setiap tulisan yang ada dalam tiap celengan. Ada tabungan untuk berobat ibu, tabungan membeli telepon genggam, tabungan untuk sekolah dan masih lain-lain.

            “Kamu benar-benar percaya kalo nabung itu bisa buat untung? Bukankah kau saat ini sedang kesulitan? Kenapa harus menabung?” tanyaku

            “Ya meskipun aku tidak sekolah, aku paham mana yang baik mana yang buruk Akbar. Kunci dari menabung itu sabar. Meskipun sekarang masih sedikit, suatu saat pasti banyak.”

            “Apa kamu tidak rugi Hendra? Kenapa tidak digunakan saja untuk membeli kebutuhanmu yang saat ini?”

            “Itu sudah ada sendiri Akbar. Aku memang sengaja menyisihkannya. Contoh uang berobat ibu. Jika aku tidak memiliki uang aku bisa menggunakan itu.”

            “Kalau  seluruh uangmu itu habis untuk berobat ibumu? Bagaimana Hendra?”

            “Iya tidak apa-apa justru itu niat utamaku. Paling tidak, ada uang yang bisa dipakai meskipun itu uang untuk aku melanjutkan sekolah.”

            Aku pun terdiam dan memandangi Hendra. Aku sadar bahwa suatu saat Hendra akan menjadi orang yang sukses.

            Sebagai teman aku harus banyak belajar dari seorang Hendra. Selain rajin menabung, ia juga tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha.

            Aku sangat tertampar melihat Hendra yang sangat-sangat antusias dalam menggapai sesuatu. Meskipun belum jelas akan berakhir seperti apa.

            Hendra terus berusaha semaksimal mungkin agar apa yang ia impikan tercapai.