Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak Kampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak Kampung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2022

Cerita Anak Kampung

 


Banyak cerita anak kampung yang mengalami kesulitan dalam mewujudkan impian mereka. Hal ini disebabkan oleh anggapan yang menilai bahwa anak kampung memiliki keterbatasan dari segi finansial, kemampuan dan juga lingkungan yang kurang mendukung.

Meskipun terdapat banyak ditemukan cerita anak kampung yang selalu berada dalam kesulitan hidup, bukan berarti mereka tidak dapat mewujudkan seluruh impian. Diperlukan niat, tekad dan usaha yang kuat untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Berikut adalah cerita anak kampung, yang mungkin akan memotivasi kamu untuk terus melanjutkan proses mewujudkan impian

            Malam ini rintikan air hujan mulai terdengar samar. Sejak tadi pagi aku tidak sedikit pun membiarkan tubuhku berpaling dari kasur kesayangan omaku. Oma bilang kasur ini peninggalan terakhir dari kedua orang tuaku. Entahlah, aku tak ingat bagaimana wajah kedua orang tuaku. Yang ku tahu oma dan opa adalah kedua orang tuaku.

            Oma selalu bercerita bahwa kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan menuju rumah oma kala itu. Dan satu-satunya yang selamat hanyalah aku. Oma berkata, saat itu usiaku belum genap dua tahun. Itulah penyebabnya aku tak ingat bagaimana wajah kedua orang tuaku. Semenjak kejadian itu, oma dan opa mengajakku tinggal di desa.

            Desa yang ku tinggali benar-benar jauh dari kota. Butuh sekitar lima jam untuk akhirnya aku sampai di kota. Boleh ku katakan, aku ingin sekali bisa merasakan bagaimana hiruk pikuk perkotaan yang konon katanya membawa candu hingga banyak orang yang memilih untuk melangsungkan kehidupannya disana.

            Mendengar perkataan orang-orang mengenai kehidupan di kota, membuatku mencari tahu dengan membaca berbagai jenis buku yang ada di perpustakaan sekolahku. Mulai dari kemajuan teknologi, gaya hidup, makanan, kesehatan dan lain-lain. Boleh ku katakan aku sudah fasih tentang teori kehidupan di perkotaan.

            Darisinilah, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliahku di kota. Inilah yang menjadi alasanku untuk tidak meninggalkan kasur kesayangan oma yang masih digunakan hingga saat ini. Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul dalam diriku, seperti aku takut muncul rasa rindu pada oma dan opa, pula rumah yang ku tinggali selama ini. Tapi bukankah semua hal memang harus dilalui dengan susah payah dulu, agar dikemudian hari dapat merasakan baiknya? Entahlah, aku hanya mendengar perkataan itu dari guruku SMA.

            Pagi pun tiba, oma dan opa tengah sibuk mempersiapkan keberangkatanku ke kota. Saat aku keluar rumah, terlihat beberapa tetangga melihat ku yang bersiap akan pergi menuntut ilmu pula mengadu nasib di kota orang. Sebagian besar dari mereka sangat mendukungku untuk pergi ke kota. Bahkan mereka mengatakan bahwa mereka berharap agar aku dapat memberikan hal-hal baru dari kota yang bisa diterapkan dan dirasakan dampak positifnya bagi lingkungan sekitar. Namun tak sedikit pula yang mengatakan bahwa akhirnya hal yang ku lakukan adalah sia-sia, sebab sudah sepatutnya sebagai perempuan aku mempersiapkan diri untuk menikah, mengurus anak dan juga suami.

            Oma yang mendengar pendapat itupun memberikan wejangan kepadaku agar tetap pada niat yang baik, yakni menuntut ilmu dan juga nasib di kota orang. Oma dan opa percaya bahwa meskipun aku berasal dari desa yang sangat terpencil dan jauh dari dampak kemajuan teknologi dan hal lainnya, aku tetap berhasil mendapatkan hal-hal positif yang ada. Aku pun berangkat dan memulai kehidupan baru dengan lingkungan yang baru.

            Kalua diingat-ingat apa yang mereka bilang ada benarnya juga, aku hanyalah gadis kampung yang hanya bermodal niat dan usaha untuk mencoba menuntut ilmu di tempat yang jauh dan tentunya lebih membawa banyak hal yang berbeda dibanding di pedesaan. Tapi satu hal yang sudah dapat ku buktikan, bahwa dari sekian banyaknya orang yang mendaftar di universitas negeri ternama di kotaku. Akulah gadis desa yang berhasil membawa nama baik desaku untuk melanjutkan Pendidikan di universitas tersebut tanpa mengeluarkan sepeserpun uang.