Selasa, 11 Oktober 2022

Persahabatan



            Selain cerpen tentang cinta, cerpen tentang persahabatan menjadi tema yang sering ditemukan dalam sebuah cerita pendek.

            Cerpen tentang persahabatan biasanya menggambarkan tentang hubungan yang tak lekang oleh waktu.

            Hubungan yang terkadang rumit ini kerap kali dialami oleh beberapa orang. Dan tak jarang mereka menuangkannya dalam bentuk cerpen tentang persahabatan.

            Berikut adalah cerpen tentang persahabatan yang diambil dari kisah nyata.

            Namaku Putri Ratna Sari. Orang-orang mengenalku dengan nama Ratna. Aku merupakan salah satu siswa di sekolah menengah atas yang terkenal cukup nakal.

            Sejak kecil aku tidak tinggal bersama kedua orang tuaku. Mereka bercerai saat aku berusia 5 tahun. Setelah mereka resmi berpisah, aku dirawat oleh nenek dari ibuku.

            Nenek yang sering kupanggil amak ini sering bercerita kalau dulu, ibu dan ayahku sangat tidak mengharapkan aku. Itu sebabnya mereka tidak mau mengurusku.

            Tapi apapun itu, aku tidak peduli asal amak masih ada disampingku. Meskipun aku sayang dengan amak, tapi bukan berarti aku tumbuh menjadi anak yang baik.

            Retno menjadi saksi bagaimana aku tumbuh menjadi orang yang nakal. Sebenarnya nakalku hanya sebatas membolos, tidur saat jam pelajaran dan masih banyak lagi.

            Bukan nakal yang mengarah ke pergaulan bebas. Ingat, aku sayang dengan amakku. Aku tidak mau membuat amak kecewa.

            Meskipun aku nakal, tapi aku penyumbang piala terbanyak di sekolahku. Tanyakan saja semua pada Retno. Dia tahu aku sangat bisa diandalkan.

            “Retno! Mau ikut bolos tidak? Hari ini aku mau makan ayam di samping kecamatan!” ucapku saat menjemput Retno sekolah.

            Tiap hari aku selalu mengantar jemput Retno. Selain karena rumahnya dekat denganku. Retno juga sangat baik kepadaku dan juga amak.

            “Bolos lagi, bolos lagi. Gak bosen kamu Na? Gak takut nilaimu tiba-tiba turun terus aku yang jadi menjadi juara kelas?”

            Aku pun hanya tertawa mendengar omongan Retno. Kami pun berangkat menuju sekolah seperti biasanya.

            Sepanjang jalan kami terus membahas berbagai hal yang menurut kami menarik. Seperti kenapa pak kepala lurah kepalanya botak dan hal seru lainnya.

            Setibanya di sekolah, Retno yang sedang sibuk mempersiapkan lomba pun langsung menuju ke kantor untuk menemui guru pembinanya.

            Aku cukup bangga memiliki teman seperti Retno yang rajin mengikuti berbagai jenis perlombaan. Meskipun sebenarnya aku jauh lebih pintar dibanding Retno, tapi aku tidak rajin.

            Singkat cerita bel tanda jam pertama dimulai pun berbunyi. Aku dan Retno duduk di kelas dan memperhatikan penjelasan dari guru.

            Meskipun aku kerap kali membolos dan tidur di kelas, tapi aku selalu memperhatikan penjelasan guru. Ya walau kadang-kadang berujung tidur. Tapi aku tetap juara kelas.

            Bell tanda istirahat pun berbunyi. Perutku pun sudah berisik karena lapar, akhirnya pun aku mengajak Retno untuk membolos demi makan mie ayam kesukaanku.

            Tapi Retno menolaknya dengan alasan sibuk. Sebagai teman baik, tentu aku maklum akan hal itu. Dan seperti biasa aku meminta Retno untuk beralasan ketika ada yang mencariku.

            Retno pun hanya mengangguk santai dan meninggalkan ku begitu saja. Aku pun berjalan menuju kecamatan yang kurang lebih berjarak 3 km dari sekolahku.

            Saat sedang berjalan menuju ke tempat mie ayam kesukaanku. Tiba-tiba saja ada motor yang menabrakku dan membuat kepala, kaki dan tanganku luka-luka.

            Untungnya orang yang menabrakku bertanggung jawab. Setelah mengantarku ke puskesmas terdekat, ia langsung mengantarku pulang.

            Setibanya di rumah, amakku sudah menangis. Aku hanya terdiam melihat amakku yang menangis. Sesaat setelah penabrak itu pergi dari rumahku, aku bertanya kepada amak.

            “Amak, apa Retno tahu kalau aku…”

            Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, tiba-tiba Retno masuk ke kamarku dengan penuh amarah.

            Ia pun mulai menceramahiku tanpa bertanya bagaimana kondisiku saat itu. Amak yang tahu Retno sedang marah-marah pun memilih keluar dari kamar.

            Aku hanya terdiam sambil menahan rasa sakit. Mau tidak mau, aku harus mendengarkan semua omelan Retno.

            Dari sekian banyaknya omelan, hanya omelan Retno yang paling aku takuti. Bagaimana tidak, Retno lah orang luar yang peduli terhadapku dan amak di saat kami susah.

            Ia selalu berhasil membujuk rayu ibu dan bapaknya agar mau menolong aku dan amak. Bahkan Retno yang mengajari ku belajar supaya mendapat peringkat di kelas.

            Meskipun terkadang menyebalkan, tapi aku sangat menyayangi Retno, seperti aku menyayangi amak.

           

Saya ingin selalu mencatat apa yang ada di fikiran saya, saya tidak mau itu hilang begitu saja, sehingga saya berharap apa yang sempat saya catat di sini bermanfaat bagi semua.

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :

Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk berkomentar.
EmoticonEmoticon