Jumat, 14 Oktober 2022

Pengorbanan




            Cerpen tentang pengorbanan tak jarang membuat orang tersadar bahwa, dirinya terlalu sering berkorban untuk orang lain.

            Mereka cenderung melupakan diri sendiri demi impian orang lain. Alur semacam ini pun sering kita jumpai dalam beberapa cerpen tentang pengorbanan.

            Berikut adalah cerpen tentang pengorbanan yang memiliki banyak amanat yang bisa dipetik.

            Sore ini hujan turun begitu derasnya. Sudah hampir seminggu ini hujan turun di sore hari. Jelas hal ini sangat menyulitkanku dalam mencari uang.

            Sejak tiga bulan yang lalu setiap sore aku selalu berjualan sate ayam. Aku biasa menjual sate di alun-alun yang tak jauh dari rumahku.

            Jika hingga jam sembilan malam sate ayamku masih banyak, aku menjualnya dengan cara berkeliling di beberapa komplek perumahan.

            Penghasilan dari jualan sate ayam ini cukup untuk menyekolahkan adikku yang masih duduk di sekolah dasar.

            Semenjak ayah dan ibuku bercerai. Aku dan adikku tidak memiliki tempat untuk tinggal. Berkali-kali aku dan adikku mencari bantuan ke saudara, namun tidak ada hasilnya.

            Kami justru dianggap sebagai pembawa masalah bila ikut menumpang dengan mereka. Karena inilah aku memutuskan untuk putus sekolah dan bekerja mencari uang untuk adikku.

            Orang tua ku pun tidak pernah mengirimkan uang untuk sekedar kami makan. Untunglah aku memiliki sedikit tabungan yang bisa digunakan untuk berjualan.

            Selain berjualan sate ayam, aku juga bekerja di tempat pencucian pakaian. Dari situlah aku bisa mendapatkan uang cukup untuk mencari kontrakkan.

            Dalam menjalani hidup, seringkali aku menangis. Berkali-kali juga aku mengatakan bahwa dunia ini tidak adil. Setidaknya tidak adil untuk adikku.

            Adikku yang tidak tahu apa-apa harus merasakan hidup tanpa adanya orang tua. Bahkan aku sendiri masih membutuhkan peran orang tua.

            Tetapi, berkali-kali juga aku mengatakan bahwa segala hal yang terjadi pada diriku sangatlah sesuai dengan kemampuanku.

            Buktinya, sudah dua tahun ini aku dan adikku mampu bertahan hidup. Bahkan hebatnya aku mampu menyekolahkan adikku.

            Semenjak ayah dan ibuku berpisah, Nesa, adikku tidak pernah sekalipun bertanya dimana keberadaan orang tuanya. Dia selalu ikut kemana pun aku pergi.

            Ya, aku mengetahui penyebabnya. Terakhir kali sebelum ayah dan ibuku berpisah, Nesa menjadi sasaran mereka untuk meluapkan segala emosi.

            Untunglah saat itu aku datang tepat waktu. Aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama harus menerima kenyataan, bahwa hidup kami pahit.

            Tetapi aku bersyukur, paling tidak aku bisa bertahan hidup sampai saat ini. Menghabiskan waktu bersama dengan adikku dan sesaat melupakan segala kesedihan.

            Meskipun terkadang aku kerapkali merindukan ibu ataupun ayah yang entah saat ini berada dimana.

            Nesa pasti juga begitu. Ia pasti merindukan ayah dan ibu yang menyayanginya. Atau mungkin justru Nesa dendam kepada orang tuanya.

            Apapun itu yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara agar aku bisa terus bertahan hidup dengan adikku. Dan adikku terus bisa melanjutkan sekolahnya.

            Tak apa meski aku harus putus sekolah. Ku harap Nesa tidak merasakan seperti aku yang ingin sekali duduk di bangku sekolah dan menerima banyak ilmu.

            Walaupun pada akhirnya ilmu tidak hanya didapat dari duduk dan mendengar penjelasan guru.

            Tetapi, aku percaya suatu saat nanti, aku dan adikku akan menjadi orang yang sukses dan dapat menjalani hidup yang Bahagia.

Saya ingin selalu mencatat apa yang ada di fikiran saya, saya tidak mau itu hilang begitu saja, sehingga saya berharap apa yang sempat saya catat di sini bermanfaat bagi semua.

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :

Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk berkomentar.
EmoticonEmoticon