Sabtu, 15 Oktober 2022

Kebersihan




            Menjaga kebersihan merupakan kewajiban semua orang, banyak cara untuk mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan. Seperti membaca cerpen tentang kebersihan.

            Cerpen tentang kebersihan dapat dijadikan media penghantar pesan kepada para pembaca, agar selalu menjaga kebersihan di lingkungannya.

            Meskipun berbentuk cerita pendek. Cerpen tentang kebersihan dapat dibuat sesuai dengan apa yang ingin disampaikan, sehingga tidak menjadi hal yang terlalu diabaikan.

            Berikut adalah cerpen tentang kebersihan.

            Beberapa hari terakhir, hujan turun sangat deras. Ayah dan ibuku berkali-kali berkata cemas jika hujan turun terus menerus.

            Biasanya jika hujan turun terus menerus, sudah dipastikan akan ada banjir yang datang. Ayah dan ibuku pun mengajakku untuk mengemasi semua barang dan pindah ke lantai atas.

            Aku pun mulai membantu ayah dan ibu mengemasi barang, seperti memindahkan kasur, pakaian, berkas-berkas dan lain-lain.

            Terakhir wilayah kami terkena banjir setinggi lutut orang dewasa. Aku dan keluargaku pun terpaksa tidur dipengungsian. Sebab rumah kami saat itu tidak bisa digunakan.

            Ayah dan ibu pun telah mengantisipasi jika hal semacam itu sampai terulang lagi. Meskipun antisipasi ini tidak begitu menolong, tapi paling tidak kami telah berusaha.

            Banjir yang datang ini bukan karena sebab. Melainkan karena luapan air dari sungai yang letaknya tak jauh dari rumahku.

            Air yang meluap ini pun disebabkan karena masih banyak masyarakat yang memilih membuang sampah di sungai.

            Padahal pemerintah sudah menyediakan tempat pembuangan sampah, namun masih saja ada yang membuang sampah sembarangan.

            Sepanjang mengemasi barang di rumah ayah dan menggerutu tentang masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai.

            Selain karena airnya yang dapat masuk ke rumah, sampah-sampah yang ada pun bisa masuk ke dalam rumah dan ketika banjir surut yang tersisa hanyalah sampah-sampah.

            Sudah hampir dua jam berlalu dan kami selesai mengemasi barang. Kata ayah kita harus segera menuju ke lantai atas. Sebab sepertinya banjir akan setinggi lutut orang dewasa.

            Sebelum naik ke atas, ayah pun segera mematikan listrik dan membawa beberapa senter yang dapat digunakan.

            Sedangkan ibu membawa beberapa makanan dan minuman yang dapat dikonsumsi di lantai atas sambil menunggu air banjir surut.

            Ketika banjir datang, banyak aktivitas masyarakat yang terhenti. Seperti sekolah, pekerjaan, dan lain-lain.

            Selain itu banjir juga dapat membawa sumber penyakit. Mengingat air yang datang dari sungai bukanlah air yang bersih, melainkan air yang sudah tercemar.

            Banyak masyarakat yang mengeluh terkait banjir yang akan terus terjadi kedepannya. Namun mereka juga lupa bahwa banjir yang ada juga karena ulah mereka sendiri.

            Sepanjang kami menunggu hujan reda dan air banjir yang masuk ke rumah surut. Kami menghabiskan waktu untuk bermain dan bercerita.

            Ibu dan ayah selalu berpesan agar aku tidak menjadi bagian dari mereka yang suka membuang sampah ke sungai.

            Sesekali dalam waktu kami menunggu aku ke balkon untuk melihat kondisi lingkungan sekitar.

            Banyak diantara mereka yang menghabiskan waktu dengan senter dan juga makanan, ada pula yang hanya memiliki makanan atau senter.

            Aku berharap semoga hujan segera reda dan air banjir segera surut. aku, ayah dan ibuku sudah mulai bosan berada di lantai atas yang fasilitasnya sedikit.

            Ditambah lagi, ayah hanya membawa satu selimut untuk kami bertiga. Kami pun berbagi selimut dan berusaha saling menghangatkan diri.

Saya ingin selalu mencatat apa yang ada di fikiran saya, saya tidak mau itu hilang begitu saja, sehingga saya berharap apa yang sempat saya catat di sini bermanfaat bagi semua.

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :

Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk berkomentar.
EmoticonEmoticon