Kamis, 20 Oktober 2022

Keluarga Kecilku

          

              


              Aku terlahir dari keluarga yang sederhana.Aku anak kedua dari tiga bersaudara,Aku bersyukur dilahirkan di keluarga ini, Keluarga ini hidup dengan harmonis.

               Selalu saling support satu sama yang lain.Umur kita bertiga bertaut cukup jauh,jadi kadang sering bertengkar dan berebut akan tetapi dibalik itu semua kita semua saling sayang satu sama lain.

               Kakak perempuanku saat ini telah berkeluarga.Walaupun sudah berkeluarga tapi sering juga ke rumah karena jarak rumahku dengan rumah suami kakakku tidak terlalu jauh.

               


Kadang juga aku sering main kesana karna aku udah punya keponakan jadi sering kesana untuk main bersama.Keponakan aku juga sering ngikutin aku terus.Saat ini kakakku juga lagi hamil lagi jadi aku mau punya keponakan dua jadi rame rumahnya kalo pada ngumpul semua.

Saat ini aku bekerja merantau ke kota orang untuk membantu orang tua dan menabung untuk masa depan.

Adik laki-lakiku dirumah karna di masih sekolah SD.

Kadang aku suka jail sama adikku karna biar rame rumahnya, Aku kadang rindu suasana rumah tapi apa boleh buat karna aku udah dewasa tidak selalu bisa dirumah terus,Aku harus bisa mencari uang sendiri supaya tidak minta terus sama orang tua.

Semoga saja dengan rezeki ini aku bisa membantu orang tua walaupun tidak banyak tapi seenggaknya bisa membantu sedikit.Aku juga sangat bersyukur karna sudah bisa membantu orang tua dan aku sudah minta uang sama orang tua.

Keinginanku saat ini hanya ingin bisa lihat orang tua sehat selalu, rezekinya lancar dan berusaha membahagiakan orang tua.


Selasa, 18 Oktober 2022

Liburanku


 


             Pada waktu itu aku pergi berlibur ke Pantai Menganti, Awalnya liburan ini tidak terencana karena waktu itu lagi libur di asrama,Pada saat itu juga bertepatan dengan hari ulang tahun ku jadi sekalian aku liburan sama temen asrama.

              Padahal kita berangkat udah sore banget akan tetapi tetap kita lanjutkan perjalanannya karna ingin menikmati sunset di Pantai Menganti,Pada saat kita sampai atas salah satu rem motor temen kita ada yang blong.

Terus ditanya sama ibu penjaga warung kenapa motornya,

             Terus temen aku cerita remnya blong bu tadi pas diturunan saya udah mulai kerasa beda terus kok remnya nggak bisa seperti biasa gitu.

Setelah itu ibunya pun bercerita juga kalo sering banyak yang ngalamin seperti itu katanya.Terus ibunya juga memberi saran untuk memanggil tukang bengkel ke atas aja daripada motornya dibawah turun kebawah malah berbahaya.

Setelah itu temenku pun memanggil tukang bengkelnya.

Kami pun menunggunya sambil menikmati sunset dan pemandangan pantai pada sore hari serta foto-foto.

Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya motornya jadi dan kita pun akhirnya bisa pulang karena waktu udah mau magrib.

Kita pun akhirnya mampir kerumah salah satu temen kita yang rumahnya deket dan akhirnya menginap disitu.

Malamnya kita melakukan bakaran ikan,ayam,sosis,dan jagung.

Kita melakukannya sambil bercerita satu sama lain.

Senin, 17 Oktober 2022

Menabung




            Belajar menabung merupakan hal yang harus dibiasakan dari kecil. Kebiasaan ini bisa dimulai dengan membiasakan membaca cerpen tentang menabung.

            Cerpen tentang menabung dapat membantu pembaca mengetahui bagaimana pentingnya kebiasaan menabung melalui konsep cerita.

            Tentu dengan adanya cerpen tentang menabung ini diharapkan banyak orang yang akhirnya mau membiasakan diri menabung.

            Berikut adalah cerpen tentang menabung yang dapat membantu anda memahami konsep menabung.

            Hari itu, cuaca sangat panas. Aku pun berinisiatif untuk mampir ke rumah temanku yang bernama Hendra.

            Hendra merupakan kawanku sejak masih duduk di sekolah dasar. Namun karena keterbatasan orang tuanya, Hendra pun tidak melanjutkan sekolahnya.

            Setiap hari ia membantu ayahnya mencari sampah yang bisa dijual kembali. Semua uang yang ia dapatkan ia tabung untuk berobat ibunya yang sedang sakit.

            Ketika aku mampir ke rumahnya. Hendra menyambutku dengan sangat senang. Ia pun bertanya bagaimana sekolahku dan pelajaran seperti apayang aku dapat.

            Dengan sangat semangat aku pun menceritakan segala hal yang aku dapatkan di sekolah.

            Sampai akhirnya terdengar suara ibunya yang batuk. Hendra pun bergegas menuju kamar ibunya dengan membawa segelas air minum.

            “Bagaimana ibumu Hendra? Apakah baik-baik saja?” tanyaku yang ikut menghampiri ibu Hendra.

            “Seperti yang kau lihat Akbar. Masih sama saja. Aku belum memiliki uang yang cukup untuk membawa ibuku ke rumah sakit yang penanganannya lebih bagus.”

            Aku pun terdiam mendengar perkataan Hendra. Pasti kehidupan mereka tidak mudah untuk dijalani. Namun, mereka berusaha saling menguatkan untuk melanjutkan hidup.

            Aku pun diajak Hendra masuk ke kamarnya. Hendra ingin aku bercerita lebih lanjut mengenai kegiatan di sekolahnya.

            Beberapa saat setelah masuk ke kamar Hendra, aku sangat tercengang. Hendra memiliki lemari yang berisikan banyak sekali celengan.

            “Akbar, kamu ini kenapa? Seperti melihat setan saja.”

            “Hendra, ini semua celengan milikmu?” tanyaku yang masih tercengang.

            “Ya kamu pikir uangku, ku buang kemana? Habis dilahap celengan-celengan itu.”

            Aku mulai membaca setiap tulisan yang ada dalam tiap celengan. Ada tabungan untuk berobat ibu, tabungan membeli telepon genggam, tabungan untuk sekolah dan masih lain-lain.

            “Kamu benar-benar percaya kalo nabung itu bisa buat untung? Bukankah kau saat ini sedang kesulitan? Kenapa harus menabung?” tanyaku

            “Ya meskipun aku tidak sekolah, aku paham mana yang baik mana yang buruk Akbar. Kunci dari menabung itu sabar. Meskipun sekarang masih sedikit, suatu saat pasti banyak.”

            “Apa kamu tidak rugi Hendra? Kenapa tidak digunakan saja untuk membeli kebutuhanmu yang saat ini?”

            “Itu sudah ada sendiri Akbar. Aku memang sengaja menyisihkannya. Contoh uang berobat ibu. Jika aku tidak memiliki uang aku bisa menggunakan itu.”

            “Kalau  seluruh uangmu itu habis untuk berobat ibumu? Bagaimana Hendra?”

            “Iya tidak apa-apa justru itu niat utamaku. Paling tidak, ada uang yang bisa dipakai meskipun itu uang untuk aku melanjutkan sekolah.”

            Aku pun terdiam dan memandangi Hendra. Aku sadar bahwa suatu saat Hendra akan menjadi orang yang sukses.

            Sebagai teman aku harus banyak belajar dari seorang Hendra. Selain rajin menabung, ia juga tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha.

            Aku sangat tertampar melihat Hendra yang sangat-sangat antusias dalam menggapai sesuatu. Meskipun belum jelas akan berakhir seperti apa.

            Hendra terus berusaha semaksimal mungkin agar apa yang ia impikan tercapai.

           

Minggu, 16 Oktober 2022

Pendidikan Anak




            Dalam tumbuh kembang anak, kita dituntut terampil dalam menyampaikan sesuatu agar mudah untuk dipahami oleh anak. Seperti contohnya cerpen pendidikan anak.

            Biasanya cerpen pendidikan anak menyajikan sebuah cerita yang ringan dan mudah dipahami oleh anak. Sehingga pesan yang terkandung pun mudah diterima dan diterapkan.

            Pemahaman cerpen pendidikan anak ini pun masih perlu didampingi oleh orang tua. Sebab hal ini akan menjadi jembatan interaksi bagi anak dan juga orang tua.

            Dari sinilah orang tua dapat memberitahukan apa yang dapat boleh dan tidak boleh dalam cerpen pendidikan anak. Anak pun akan lebih antusias dalam memahaminya.

            Berikut adalah cerpen pendidikan anak yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan tentunya dapat menghibur dan menyenangkan anak.

            Suatu hari di desa yang sangat terpencil, hidup seorang kakek dan dua cucunya. Kedua cucu kakek ini bernama Leo dan Neo.

            Sejak kecil Leo merupakan anak yang nakal dan sangat pemalas. Berbeda dengan Neo yang rajin dan tak pernah membantah perintah kakeknya.

            Semua pekerjaan rumah dan ladang pun hanya kakek dan Neo saja yang mengerjakan. Leo hanya duduk-duduk santai dan seringkali pergi bermain.

            Berulang kali kakek menasehati Leo, tapi tetap saja Leo tidak mau mendengarkan ucapan kakek.

            Melihat Leo yang seperti ini, membuat Neo berusaha memberitahukan agar tidak menjadi anak yang nakal dan pemalas.

            Ia harus bisa mengerjakan beberapa hal agar bisa bertahan hidup kedepannya. Namun Leo tidak peduli dengan perkataan Neo. Dia berjalan berlalu meninggalkan Neo.

            Lama-kelamaan sikap Leo sangatlah nakal. Dia berani mencuri hasil panen milik tetangga yang sudah disimpan dalam gudang yang terkunci rapat.

            Neo yang mengetahui hal itu, langsung bergegas menemui Leo dan meminta Leo agar mengembalikan hasil panen yang telah dicuri.

            “Leo! Kembalikan hasil curian. Harus berapa kali ku bilang, jangan mencuri! Kita ini bukan pencuri!” tegas Neo

            Mendengar hal itu Leo hanya tersenyum dan melemparkan sejumlah uang kepada Neo.

            “aku tidak butuh uangmu! Ambillah! Kita boleh miskin dan tidak punya apa-apa Leo, tapi jangan kamu mencuri milik orang lain!” Ucap Neo

            Lagi-lagi Leo tidak menghiraukan ucapan Neo. Neo pun bergegas pergi dan meninggalkan Leo.

            Saat diperjalanan Neo sangat sedih. Ia berpikir bahwa kakeknya akan marah dan jatuh sakit apabila tahu jika Leo telah mencuri.

            Neo pun berusaha menenangkan diri dan menceritakan segala hal kepada kakeknya ketika telah sampai di rumah.               

            Kakek yang mendengar hal itu pun segera menasehati Neo agar tidak melakukan hal seperti itu.

            Dan tidak boleh membenci Leo meskipun Leo melakukan kesalahan. Neo harus sabar dan harus selalu menegur Leo ketika Leo berbuat salah.

            Mendengar nasehat dari kakek, Neo pun berjanji untuk melakukan hal yang kakek harapkan.

            Neo juga yakin bahwa suatu saat Leo akan berubah meskipun membutuhkan waktu yang lama.

            Hingga suatu hari, ketika Leo kembali mencuri hasil panen milik tetangga. Tak sengaja ia menginjak jebakan yang telah disiapkan oleh tetangganya.

            Leo pun berteriak minta tolong supaya dibebaskan dari perangkap itu. Leo ketakutan hingga tak tahu mesti berbuat apa.

            Akhirnya ia terjebak selama semalaman. Ketika matahari mulai muncul, Leo melihat Neo sedang berdiri di dekat gudang. Leo pun memanggil Neo dan meminta bantuannya.

            “Neo, bisakah kau menolongku?”

            “Leo, aku mau menolongmu, asal kau berjanji mau mengembalikan barang curiannya dan tidak akan mencuri lagi setelah ini.”

            Leo pun berjanji tidak akan mencuri lagi dan akan menjadi anak yang rajin dan baik. Setelah Leo berjanji, Neo membantunya keluar dari jebakan itu.

            Leo pun memulai hidupnya dengan menjadi anak yang baik, rajin dan tidak suka mencuri.

 

Sabtu, 15 Oktober 2022

Kebersihan




            Menjaga kebersihan merupakan kewajiban semua orang, banyak cara untuk mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan. Seperti membaca cerpen tentang kebersihan.

            Cerpen tentang kebersihan dapat dijadikan media penghantar pesan kepada para pembaca, agar selalu menjaga kebersihan di lingkungannya.

            Meskipun berbentuk cerita pendek. Cerpen tentang kebersihan dapat dibuat sesuai dengan apa yang ingin disampaikan, sehingga tidak menjadi hal yang terlalu diabaikan.

            Berikut adalah cerpen tentang kebersihan.

            Beberapa hari terakhir, hujan turun sangat deras. Ayah dan ibuku berkali-kali berkata cemas jika hujan turun terus menerus.

            Biasanya jika hujan turun terus menerus, sudah dipastikan akan ada banjir yang datang. Ayah dan ibuku pun mengajakku untuk mengemasi semua barang dan pindah ke lantai atas.

            Aku pun mulai membantu ayah dan ibu mengemasi barang, seperti memindahkan kasur, pakaian, berkas-berkas dan lain-lain.

            Terakhir wilayah kami terkena banjir setinggi lutut orang dewasa. Aku dan keluargaku pun terpaksa tidur dipengungsian. Sebab rumah kami saat itu tidak bisa digunakan.

            Ayah dan ibu pun telah mengantisipasi jika hal semacam itu sampai terulang lagi. Meskipun antisipasi ini tidak begitu menolong, tapi paling tidak kami telah berusaha.

            Banjir yang datang ini bukan karena sebab. Melainkan karena luapan air dari sungai yang letaknya tak jauh dari rumahku.

            Air yang meluap ini pun disebabkan karena masih banyak masyarakat yang memilih membuang sampah di sungai.

            Padahal pemerintah sudah menyediakan tempat pembuangan sampah, namun masih saja ada yang membuang sampah sembarangan.

            Sepanjang mengemasi barang di rumah ayah dan menggerutu tentang masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai.

            Selain karena airnya yang dapat masuk ke rumah, sampah-sampah yang ada pun bisa masuk ke dalam rumah dan ketika banjir surut yang tersisa hanyalah sampah-sampah.

            Sudah hampir dua jam berlalu dan kami selesai mengemasi barang. Kata ayah kita harus segera menuju ke lantai atas. Sebab sepertinya banjir akan setinggi lutut orang dewasa.

            Sebelum naik ke atas, ayah pun segera mematikan listrik dan membawa beberapa senter yang dapat digunakan.

            Sedangkan ibu membawa beberapa makanan dan minuman yang dapat dikonsumsi di lantai atas sambil menunggu air banjir surut.

            Ketika banjir datang, banyak aktivitas masyarakat yang terhenti. Seperti sekolah, pekerjaan, dan lain-lain.

            Selain itu banjir juga dapat membawa sumber penyakit. Mengingat air yang datang dari sungai bukanlah air yang bersih, melainkan air yang sudah tercemar.

            Banyak masyarakat yang mengeluh terkait banjir yang akan terus terjadi kedepannya. Namun mereka juga lupa bahwa banjir yang ada juga karena ulah mereka sendiri.

            Sepanjang kami menunggu hujan reda dan air banjir yang masuk ke rumah surut. Kami menghabiskan waktu untuk bermain dan bercerita.

            Ibu dan ayah selalu berpesan agar aku tidak menjadi bagian dari mereka yang suka membuang sampah ke sungai.

            Sesekali dalam waktu kami menunggu aku ke balkon untuk melihat kondisi lingkungan sekitar.

            Banyak diantara mereka yang menghabiskan waktu dengan senter dan juga makanan, ada pula yang hanya memiliki makanan atau senter.

            Aku berharap semoga hujan segera reda dan air banjir segera surut. aku, ayah dan ibuku sudah mulai bosan berada di lantai atas yang fasilitasnya sedikit.

            Ditambah lagi, ayah hanya membawa satu selimut untuk kami bertiga. Kami pun berbagi selimut dan berusaha saling menghangatkan diri.

Jumat, 14 Oktober 2022

Pengorbanan




            Cerpen tentang pengorbanan tak jarang membuat orang tersadar bahwa, dirinya terlalu sering berkorban untuk orang lain.

            Mereka cenderung melupakan diri sendiri demi impian orang lain. Alur semacam ini pun sering kita jumpai dalam beberapa cerpen tentang pengorbanan.

            Berikut adalah cerpen tentang pengorbanan yang memiliki banyak amanat yang bisa dipetik.

            Sore ini hujan turun begitu derasnya. Sudah hampir seminggu ini hujan turun di sore hari. Jelas hal ini sangat menyulitkanku dalam mencari uang.

            Sejak tiga bulan yang lalu setiap sore aku selalu berjualan sate ayam. Aku biasa menjual sate di alun-alun yang tak jauh dari rumahku.

            Jika hingga jam sembilan malam sate ayamku masih banyak, aku menjualnya dengan cara berkeliling di beberapa komplek perumahan.

            Penghasilan dari jualan sate ayam ini cukup untuk menyekolahkan adikku yang masih duduk di sekolah dasar.

            Semenjak ayah dan ibuku bercerai. Aku dan adikku tidak memiliki tempat untuk tinggal. Berkali-kali aku dan adikku mencari bantuan ke saudara, namun tidak ada hasilnya.

            Kami justru dianggap sebagai pembawa masalah bila ikut menumpang dengan mereka. Karena inilah aku memutuskan untuk putus sekolah dan bekerja mencari uang untuk adikku.

            Orang tua ku pun tidak pernah mengirimkan uang untuk sekedar kami makan. Untunglah aku memiliki sedikit tabungan yang bisa digunakan untuk berjualan.

            Selain berjualan sate ayam, aku juga bekerja di tempat pencucian pakaian. Dari situlah aku bisa mendapatkan uang cukup untuk mencari kontrakkan.

            Dalam menjalani hidup, seringkali aku menangis. Berkali-kali juga aku mengatakan bahwa dunia ini tidak adil. Setidaknya tidak adil untuk adikku.

            Adikku yang tidak tahu apa-apa harus merasakan hidup tanpa adanya orang tua. Bahkan aku sendiri masih membutuhkan peran orang tua.

            Tetapi, berkali-kali juga aku mengatakan bahwa segala hal yang terjadi pada diriku sangatlah sesuai dengan kemampuanku.

            Buktinya, sudah dua tahun ini aku dan adikku mampu bertahan hidup. Bahkan hebatnya aku mampu menyekolahkan adikku.

            Semenjak ayah dan ibuku berpisah, Nesa, adikku tidak pernah sekalipun bertanya dimana keberadaan orang tuanya. Dia selalu ikut kemana pun aku pergi.

            Ya, aku mengetahui penyebabnya. Terakhir kali sebelum ayah dan ibuku berpisah, Nesa menjadi sasaran mereka untuk meluapkan segala emosi.

            Untunglah saat itu aku datang tepat waktu. Aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama harus menerima kenyataan, bahwa hidup kami pahit.

            Tetapi aku bersyukur, paling tidak aku bisa bertahan hidup sampai saat ini. Menghabiskan waktu bersama dengan adikku dan sesaat melupakan segala kesedihan.

            Meskipun terkadang aku kerapkali merindukan ibu ataupun ayah yang entah saat ini berada dimana.

            Nesa pasti juga begitu. Ia pasti merindukan ayah dan ibu yang menyayanginya. Atau mungkin justru Nesa dendam kepada orang tuanya.

            Apapun itu yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara agar aku bisa terus bertahan hidup dengan adikku. Dan adikku terus bisa melanjutkan sekolahnya.

            Tak apa meski aku harus putus sekolah. Ku harap Nesa tidak merasakan seperti aku yang ingin sekali duduk di bangku sekolah dan menerima banyak ilmu.

            Walaupun pada akhirnya ilmu tidak hanya didapat dari duduk dan mendengar penjelasan guru.

            Tetapi, aku percaya suatu saat nanti, aku dan adikku akan menjadi orang yang sukses dan dapat menjalani hidup yang Bahagia.

Kamis, 13 Oktober 2022

Cinta




Cerpen tentang cinta merupakan bacaan yang banyak dibaca oleh para remaja. Banyaknya drama percintaan menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

            Selain karena kisah cinta yang sangat sesuai dengan kisah hidup mereka, alur dalam cerpen tentang cinta pun mampu membangkitkan emosional para pembaca.

            Tak heran jika banyak ditemukan cerpen tentang cinta dengan berbagai alur cerita yang ada didalamnya.

            Berikut adalah salah satu contoh cerpen tentang cinta yang bisa dibaca untuk mengisi waktu luang anda.

            Cinta Pertama

            Siang ini seperti biasa, aku membantu ayahku mengurus usaha makanan yang telah ada sebelum aku lahir di dunia ini.

            Semua makanan yang tersedia, seperti ayam geprek, tumis sayur, gorengan dan beberapa makanan lainnya dimasak oleh ibuku tercinta.

            Selain cantik, Ibuku memang pandai memasak, itu sebabnya ayah tergila-gila kepada ibuku. Pernikahan ayah dan ibuku telah berjalan kurang lebih 27 tahun.

            Selama pernikahan, ayah dan ibuku sepakat untuk memiliki satu anak saja. Yaitu aku, Putra Kresmana.

            Aku selalu takjub dengan kisah cinta ayah dan ibu. Awal yang menarik dan perjalanan yang menarik. Aku selalu ingin memiliki rumah tangga seperti mereka.

            Harmonis. Ya meskipun, banyak lika-liku yang terjadi. Tapi yang aku tahu, ibu dan ayahku selalu mencari solusi dari setiap masalah yang ada.

            Ayah pernah berkata kepadaku bahwa Ibu adalah cinta pertama dan terakhir bagi ayah. Dan begitu pula sebaliknya.

            Dulu saat belum saling mengenal, ayah dan ibuku termasuk golongan orang yang sangat mementingkan masa depan. Dan tentunya sangat ambisius.

            Dalam rencana hidup mereka, menikah adalah nomor sekian. Uang adalah nomor satu. Dan terbukti dengan pencapaian mereka di usia muda.

            Berkat tekunnya ayah dan ibu dalam bekerja, ayah mampu membeli beberapa lahan sawah yang masih dikelola hingga saat ini.

            Sedangkan ibu berhasil naik jabatan sebagai manager di suatu perusahaan pada saat itu.

            Mereka hanya menghabiskan waktu untuk mencari uang, uang dan uang. Hingga akhirnya usia ayah dan ibu sudah sangat terlambat untuk menikah.

            Masing-masing keluarga ayah ataupun ibu berusaha untuk mencarikan jodoh. Tapi tetap saja ibu dan ayah masih ingin fokus dengan karir masing-masing.

            Hingga di suatu sore, ayah memutuskan untuk keluar dari rumah karena orang tuanya memaksa ayah untuk menikah dengan Wanita yang tidak ia cintai.

            Berhari-hari ayah tidak pulang dan tidak membawa uang sepeserpun. Hingga akhirnya tepat di hari ketiga ayah kabur dari rumah. Ayah bertemu ibu.

            Saat itu hujan turun sangat deras, dan ibu berlari-lari mencari tempat untuk berteduh sembari membawa rantang makanan.

            Tanpa pikir panjang ayah pun langsung mengikuti ibu. Ibu pun acuh melihat ayah yang kondisinya seperti gembel.

            Di tengah derasnya hujan, ibu membuka rantang makanan yang ia bawa. Sejak awal bekerja ibu memang selalu membawa bekal makanan untuk menghemat pengeluaran.

            Ayah pun memperhatikan ibu yang membuka rantang makanan yang ia bawa. Dengan harap ayah juga ditawari karena tiga hari perutnya kosong.

            Tanpa melihat ayah, ibupun makan tanpa perasaan bersalah. Hingga akhirnya ayah tak tahan dan meminta makanan ibu secara terang-terangan.

            Saat itu ibu kaget dan secara reflek memberikan semua makanannya kepada ayah. Ibu hanya memandang ayah tanpa berkedip dan meratapi makanannya yang telah habis di makan.

            Ayah pun mengembalikan rantang kosong itu dan bertanya kepada ibu dimana alamat rumahnya. Tanpa pikir panjang pun ibu langsung memberi tahu kepada ayah pada saat itu.

            Ayah pun bergegas kembali pulang dan berpamitan kepada ibu. Ayah berkata bahwa seminggu setelah pertemuan pertama ayah akan datang melamar ibu.

            Ibu hanya terdiam dan melihat ayah yang belari-lari di tengah derasnya hujan. Ibu merasa aneh dan berusaha untuk mengabaikan ayah.

            Dan benar saja, seminggu kemudian ayah beserta keluarga besarnya datang ke rumah ibu dan melamar ibu.

            Menariknya dalam kisah ini adalah, ibu tidak menolak lamaran ayah yang pada saat itu sama sekali belum ibu kenal. Bahkan keduanya tidak tahu nama masing-masing.

            Tiga bulan pun berlalu dan akhirnya ayah ibuku menikah. Kalau dipikir-pikir sungguh kisah cinta yang menarik bukan?

            Akhirnya aku tersadar, tanpa kita sibuk mencari cinta sejati akan datang di saat yang tepat.

Rabu, 12 Oktober 2022

Pendidikan



            Mencari ilmu bukanlah hal yang mudah. Terkadang kita membutuhkan banyak motivasi, salah satunya dengan membaca cerpen tentang pendidikan.

            Bagi beberapa orang membaca cerpen tentang pendidikan mampu memberikan motivasi yang dapat membangkitkan semangat belajar.

            Cerpen tentang pendidikan sendiri mengandung banyak amanat atau pesan yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

            Berikut adalah cerpen tentang pendidikan yang dapat membangkitkan motivasi belajar.

            Diana merupakan siswa yang sedikit berbeda dengan teman-temannya di kelas. Ia sedikit sulit untuk memahami beberapa materi yang disampaikan oleh gurunya.

            Hal ini membuat Diana dikucilkan, teman-teman bahkan gurunya menganggap Diana sebagai siswa yang bodoh dan memiliki masa depan yang suram.

            Ketika teman dan guru sekolah mengejek kekurangannya, Diana hanya diam. Tak pernah sekalipun dia membalas semua perkataannya.

            Selain ejekan, terkadang Diana juga diperlakukan buruk oleh beberapa temannya. Seperti dikunci di dalam toilet dan lain-lain.

            Tetapi hal ini tidak membuat Diana menyerah. Ia terus berangkat sekolah di setiap harinya. Meskipun Diana tetap kesulitan dalam memahami pelajaran, ia terus masuk sekolah.

            Di rumah pun Diana mencoba untuk memahami segala materi yang ada. Ayah, ibu dan kakaknya selalu memberikan dukungan dan kepercayaan bahwa Diana pasti bisa.

            Hingga saat memasuki pelajaran terakhir, yakni matematika. Semua murid di kelas bersorak karena Diana tidak dapat menyelesaikan soal yang diberikan oleh gurunya.

            Beberapa dari mereka bahkan mengumpat karena melihat Diana yang tidak bisa mengerjakan soal yang bagi mereka sangatlah mudah.

            Mendengar ejekan temannya Diana pun menahan diri untuk tidak menangis. Bahkan sesekali ia melihat gurunya dengan harapan gurunya akan melindungi Diana.

            Tetapi semua itu hanya sebatas harapan Diana. Guru itu mengabaikan perlakuan mereka terhadap Diana.

            Diana pun memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya. Dan pelajaran tidak jadi dilanjutkan karena guru merasa situasi di kelas tidak mendukung karena Diana.

            Sepulang sekolah, Diana menceritakan segalanya kepada ayah, ibu dan kakaknya. Mendengar hal itu kakak Diana yang bernama Mayko sangat tidak terima.

            Ayah berulang kali meyakinkan Mayko bahwa semua akan baik-baik saja. Ayah juga mengatakan bahwa mereka hanya perlu memberikan dukungan kepada Diana.

            Setelah mendengar hal itu, Emosi Mayko meredam. Ia tahu, emosi tidak pernah menyelesaikan masalah.

            Akhirnya Ayah, Ibu dan Mayko berusaha untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada Diana. Mayko pun mencoba berbagai metode agar Diana mampu memahami materi.

            Dukungan dan bantuan yang diberikan keluarganya, mampu membuat Diana kembali percaya diri dan terus mencoba setiap metode yang sesuai dengan dirinya.

            Hingga akhirnya Diana, berhasil menemukan cara yang tepat dalam memahami materi. Yakni dengan mendengarkan, memahami, menulis, dan mengulang materi dengan lisannya.

            Cara yang cukup menguras waktu namun sangat sesuai dengan gaya belajar Diana. Setelah menemukan cara ini, Diana pun bekerja keras untuk mengejar ketertinggalannya.

            Semua usaha Diana pun terbayar dengan impas. Diana berhasil masuk 10 besar di kelasnya. Dan membungkam semua orang yang pernah mengejeknya.

            Dari hal yang telah Diana alami, Diana percaya bahwa kita harus selalu berusaha dengan cara kita tanpa menghiraukan omongan orang lain yang tidak tahu usaha kita.

            Diana percaya, ini menjadi awal bagi Diana untuk meraih mimpi-mimpinya. Meskipun banyak hal yang tidak mudah untuk dilalui, namun bukan berarti Diana menyerah.

            Diana akan terus menuntut ilmu berapapun sulit Diana memahami banyak hal, karena siapapun yang mau berusaha pasti akan menemukan jalannya.

Selasa, 11 Oktober 2022

Persahabatan



            Selain cerpen tentang cinta, cerpen tentang persahabatan menjadi tema yang sering ditemukan dalam sebuah cerita pendek.

            Cerpen tentang persahabatan biasanya menggambarkan tentang hubungan yang tak lekang oleh waktu.

            Hubungan yang terkadang rumit ini kerap kali dialami oleh beberapa orang. Dan tak jarang mereka menuangkannya dalam bentuk cerpen tentang persahabatan.

            Berikut adalah cerpen tentang persahabatan yang diambil dari kisah nyata.

            Namaku Putri Ratna Sari. Orang-orang mengenalku dengan nama Ratna. Aku merupakan salah satu siswa di sekolah menengah atas yang terkenal cukup nakal.

            Sejak kecil aku tidak tinggal bersama kedua orang tuaku. Mereka bercerai saat aku berusia 5 tahun. Setelah mereka resmi berpisah, aku dirawat oleh nenek dari ibuku.

            Nenek yang sering kupanggil amak ini sering bercerita kalau dulu, ibu dan ayahku sangat tidak mengharapkan aku. Itu sebabnya mereka tidak mau mengurusku.

            Tapi apapun itu, aku tidak peduli asal amak masih ada disampingku. Meskipun aku sayang dengan amak, tapi bukan berarti aku tumbuh menjadi anak yang baik.

            Retno menjadi saksi bagaimana aku tumbuh menjadi orang yang nakal. Sebenarnya nakalku hanya sebatas membolos, tidur saat jam pelajaran dan masih banyak lagi.

            Bukan nakal yang mengarah ke pergaulan bebas. Ingat, aku sayang dengan amakku. Aku tidak mau membuat amak kecewa.

            Meskipun aku nakal, tapi aku penyumbang piala terbanyak di sekolahku. Tanyakan saja semua pada Retno. Dia tahu aku sangat bisa diandalkan.

            “Retno! Mau ikut bolos tidak? Hari ini aku mau makan ayam di samping kecamatan!” ucapku saat menjemput Retno sekolah.

            Tiap hari aku selalu mengantar jemput Retno. Selain karena rumahnya dekat denganku. Retno juga sangat baik kepadaku dan juga amak.

            “Bolos lagi, bolos lagi. Gak bosen kamu Na? Gak takut nilaimu tiba-tiba turun terus aku yang jadi menjadi juara kelas?”

            Aku pun hanya tertawa mendengar omongan Retno. Kami pun berangkat menuju sekolah seperti biasanya.

            Sepanjang jalan kami terus membahas berbagai hal yang menurut kami menarik. Seperti kenapa pak kepala lurah kepalanya botak dan hal seru lainnya.

            Setibanya di sekolah, Retno yang sedang sibuk mempersiapkan lomba pun langsung menuju ke kantor untuk menemui guru pembinanya.

            Aku cukup bangga memiliki teman seperti Retno yang rajin mengikuti berbagai jenis perlombaan. Meskipun sebenarnya aku jauh lebih pintar dibanding Retno, tapi aku tidak rajin.

            Singkat cerita bel tanda jam pertama dimulai pun berbunyi. Aku dan Retno duduk di kelas dan memperhatikan penjelasan dari guru.

            Meskipun aku kerap kali membolos dan tidur di kelas, tapi aku selalu memperhatikan penjelasan guru. Ya walau kadang-kadang berujung tidur. Tapi aku tetap juara kelas.

            Bell tanda istirahat pun berbunyi. Perutku pun sudah berisik karena lapar, akhirnya pun aku mengajak Retno untuk membolos demi makan mie ayam kesukaanku.

            Tapi Retno menolaknya dengan alasan sibuk. Sebagai teman baik, tentu aku maklum akan hal itu. Dan seperti biasa aku meminta Retno untuk beralasan ketika ada yang mencariku.

            Retno pun hanya mengangguk santai dan meninggalkan ku begitu saja. Aku pun berjalan menuju kecamatan yang kurang lebih berjarak 3 km dari sekolahku.

            Saat sedang berjalan menuju ke tempat mie ayam kesukaanku. Tiba-tiba saja ada motor yang menabrakku dan membuat kepala, kaki dan tanganku luka-luka.

            Untungnya orang yang menabrakku bertanggung jawab. Setelah mengantarku ke puskesmas terdekat, ia langsung mengantarku pulang.

            Setibanya di rumah, amakku sudah menangis. Aku hanya terdiam melihat amakku yang menangis. Sesaat setelah penabrak itu pergi dari rumahku, aku bertanya kepada amak.

            “Amak, apa Retno tahu kalau aku…”

            Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, tiba-tiba Retno masuk ke kamarku dengan penuh amarah.

            Ia pun mulai menceramahiku tanpa bertanya bagaimana kondisiku saat itu. Amak yang tahu Retno sedang marah-marah pun memilih keluar dari kamar.

            Aku hanya terdiam sambil menahan rasa sakit. Mau tidak mau, aku harus mendengarkan semua omelan Retno.

            Dari sekian banyaknya omelan, hanya omelan Retno yang paling aku takuti. Bagaimana tidak, Retno lah orang luar yang peduli terhadapku dan amak di saat kami susah.

            Ia selalu berhasil membujuk rayu ibu dan bapaknya agar mau menolong aku dan amak. Bahkan Retno yang mengajari ku belajar supaya mendapat peringkat di kelas.

            Meskipun terkadang menyebalkan, tapi aku sangat menyayangi Retno, seperti aku menyayangi amak.