Sabtu, 11 Juni 2022

Malaikat Baik


 "Juno, jangan lupa yaaa, reuni emasnya,” kata Ninuk melalui WA.

“Yooo, insyah Allah, aku hadir.”
“Juno, sampeyan ditunggu sama Dewi dan Putri,” kata Ninuk lebih lanjut.
“Ha…, ha…, ha…, salam yaaa, untuk mereka.”

Sebagai teman satu kelas sejak Kelas 1A, kelas II Paspal sampai kelas III Paspal, SMA Negeri Kendal. Ninuk tahu betul tentang diriku.
Dewi, pacarku yang pertama, sejak kelas 3 di SMP Kendal dan berlanjut di SMA N Kendal. Kebetulan aku dan dia sama-sama satu kelas di kelas 1/A. Kenangan yang tidak pernah aku lupakan adalah ciuman pertamaku sehabis nonton film “Pengantin Remaja”. Film romantis yang dibintangi Widyawati dan Sophan Sopian. Banyak adegan romantis merasuk dalam benakku. Di bawah pohon mangga yang berada di samping rumahnya, dengan keberanian yang aku paksakan aku cium bibirnya yang mungil. Gigiku beradu dengan giginya. Sama-sama belum pernah ciuman. He…, he…, he…

Sayangnya, Dewi selingkuh dengan mahasiswa dari suatu perguruan tinggi ternama di Semarang. Sebagai lelanangin di sekolah, aku benar benar dibuat KO. Sempat beberapa bulan aku shock. Beruntung teman-teman satu kelas memberikan dorongan kepadaku untuk tidak terlarut kesedihan dengan Dewi. Aku bangkit kembali, menggandeng Putri sebagai pacarku kedua. Aku pacaran dengannya ketika kelas II. Aku kelas II Paspal dan Putri kelas II Sosbud. Hobbynya outboud. Setiap dua minggu sekali ngajak ke hutan wisata. Berkejaran, main petak umpet, arum jeram, dan permainan lainnya.

“Juno, cari aku!” teriaknya dari tempat persembunyian.

Aku lepaskan tutup mataku, pura-pura mencarinya. Padahal aku sudah tahu. Selalu dibelakang pohon. Dengan mengendap ngendap, aku dekap dari belakang.
“Ketangkap.”

“Juno, tutup matanya lagi.”
Aku ikutin apa katanya. Ternyata Putri menciumku dengan mesra.

“Kriiiiii…ng,” aku tersadar dari lamunanku.
Kini, usiaku telah menginjak 67 tahun. Keinginan untuk jumpa dengan Dewi dan Putri serta teman-teman satu angkatan mengalahkan fisikku yang telah renta. Apalagi ini merupakan reuni pertamaku. Lima puluh tahun tidak ketemu, waktu yang begitu lama. Aku ingin menatap wajah mereka berdua yang pernah mengisi relung hatiku.
“Ayah…, apakah perlu diantar ke Bandungan?” anakku menawarkan diri.
“Ndak usah, ayah masih kuat. Ayah belikan tiketnya saja.”

Tibalah hari yang dinanti.
Selesai sholat Subuh, doaku sangat sederhana: “Ya Allah, mudahkanlah dan lancarkanlah perjalananku ke Bandungan.”
Meski kereta Argo Bromo yang akan membawaku dari Gambir menuju Semarang berangkat jam 09.30, namun pagi, aku sudah berangkat ke Stasiun Bogor. Ransel di punggung yang berisi keperluan pribadi, 1 dos buah tangan untuk Dewi dan Putri di tangan kiri dan 1 dos buah tangan untuk teman-teman satu angkatan di tangan kanan. KRL sudah dijejali penumpang, namun aku paksakan naik. Menunggu kereta berikutnya sama saja bohong, sama penuhnya. Lagi pula, aku takut terlambat sampai di Gambir.

“Juno, rasain lu …, nggak dapat tempat duduk. Orang tua tidak tahu diri,” tiba-tiba terdengar suara hati kiriku.
Aku berdiri dihadapan seorang gadis yang sedang mendengarkan lagu melalui HP nya. Sepertinya, mahasiswi karena dipangkuannya ada beberapa buku. Ketika gadis tersebut melihatku, secara spontan berdiri.
“Silahkan duduk Pak.”
“Terima kasih.”
“Ha…, ha…, ha…, beruntung sekali ada malaikat menolongmu,” kembali hati kiriku berkata.
Aneh. Sepertinya, hati kiriku tidak rela aku dapat tempat duduk.

KRL mulai berjalan, berlari pelan dan akhirnya berlari dengan kecepatan konstan tanpa mengenal lelah. Setiap stasiun, KRL berhenti sejenak, menarik nafas sambil memberikan kesempatan penumpang yang tak tahu diri masuk ke perutnya yang sudah penuh.

“Juno, coba lihat penumpang yang berdiri di depanmu,” kembali hati kiriku bersuara.
Aku perhatikan seorang kakek, sepertinya lebih muda dariku, berdiri dengan lelahnya. Keringat membasahi mukanya yang kuyu. Satu tangannya memegang tiang penyanggah. Di punggungnya juga menempel rangsel. Di depannya, duduk laki-laki muda, pura-pura tidur.
“Laki-laki tidak tahu diri,” kata hati kananku.
“Bukan dia yang tidak tahu diri, tapi kamu dan lelaki tua dihadapmu. Sudah tua, kenapa tidak dzikir saja di rumah?” Suara hati kiriku menyangkal suara hati kananku.
Sekitar satu jam lebih sedikit perjalanan, akhirnya KRL sampai di satsiun Gondangdia. Sebenarnya kalau kereta terus langsung sampai di stasiun Gambir. Tapi, manajemen KAI lebih senang menurunkan penumpang di Gondangdia. Maklum stasiun Gambir merupakan stasiun untuk jarak jauh, tidak mau dipenuhi oleh penumpang yang turun dari KRL. Dengan rasa sakit yang kutahan, aku turun dari kereta.

“Ha…, ha…, ha…, asam uratnya kambuh, yaaa? Juno, lupakan reuninya, kembali saja ke Bogor. Mumpung masih di Gondangdia.”
Aku tidak menanggapi ocehan hati kiri. Aku berdiri sejenak di tepi rel. Berharap asam uratnya cepat berlalu.

“Bapak, mari saya bantu bawakan kedua dos nya,” kata penumpang yang juga baru turun dari kereta.
“Bapak mau mudik ya…?” katanya lagi lagi sambil berjalan.
Sambil berjalan sedikit pincang, aku mengikuti bapak yang tidak aku ketahui namanya.
“Yaa, mau ke Semarang.”
“Bapak naik bajaj ke Stasiun Gambir, ongkosnya Rp. 15.000,- .”
“Ha…, ha…, ha…, Juno, untuk kedua kalinya engkau diselamatkan malaikat.”
Kembali, aku diam, tidak mau melayani ejekannya. Alhamdulillah…, alangkah baiknya bapak yang aku tidak tahu namanya.

Sampai di Stasiun Gambar, mataku berkunang kunang melihat penumpang berjubel, berebut antrian.
“Ha…, ha…, ha…, Juno, bingung kan! Juno, engkau itu sudah tua renta. Berjalan saja sudah susah, apalagi ngurus tiket yang dikerumunan manusia yang tidak mengenal kemanusiaan,” hati kiriku kembali mengejekku.
Beruntung ada porter menghampiriku, membantuku dalam pengurusan tiket. Olehnya, aku diantar ke cafe.
“Bapak duduk di sini saja, minum kopi dan makan roti. Nanti pas jam keberangkatan kereta saya ke sini lagi.”
Sejatinya, apa yang dikatakan hati kiriku ada benarnya. Kemampuanku untuk mengurus diri sendiri sudah semakin menurun.

Lima belas menit sebelum keberangkatan, kereta memasuki stasiun.
“Bapak di kelas priority, gerbong 2, nomor duduk 3A,” kata porter.
“Ha…, ha…, ha…, Juno bersyukurlah engkau, ada malaikat ketiga yang membantumu.”

Priiiit…, tepat Jam 09.30, Kereta Agro Bromo Anggrek berangkat. Aku lihat dari jendela, para kru stasiun berjejer memberikan penghormatan dan mendoakan agar perjalanan kereta selamat sampai tujuan.
Seribu roda kereta berputar pelan, semakin lama semakin cepat. Deg…, dug…, deg…, dug…, deg…, dug… Suara roda kereta tiada hentinya bernyanyi dengan suara monoton. Nyanyian roda kereta kalah merdu dengan nyanyian kereta ketika aku masih kecil. Tuuuit…, tuuuit …, tuuuit… Ojo jajan…, ojo jajan…, ojo jajan… Ya…, itu suaranya. Aku tersenyum sendiri. Ingat masih kecil, masa penuh keprihatinan. Kala itu ibuku tidak mampu membelikan permen yang harganya hanya beberapa sen.

Tiang-tiang listrik, berlarian dengan cepat, menuju arah berlawanan. Setiap perlintasan, berbagai kendaraan berhenti dengan terpaksa, memandang dengan tidak sabar disertai rasa iri dan jengkel. Namun, kereta tidak peduli. Berjalan dengan angkuhnya. Hamparan sawah, rimbunnya hutan, birunya lautan, sesekali terlihat dari jendela kereta.

“Juno, nikmat betul perjalanmu,” hati kiriku mulai membuka percakapan.
Seperti biasa aku diam saja. Memang aku sedang menikmati fasilitas kelas priority. Perjalanan ternyaman yang pernah aku rasakan, mengalahkan layanan kala naik pesawat Garuda.

“Juno, apakah kamu masih belum sadar bahwa kamu sebenarnya tidak mampu lagi bepergian. Kamu hanya mengharapkan belas kasihan para malaikat. Betul tidak?” Kembali, hati kiriku mulai memberikan ceramah.
“Aku hitung, ada tiga malaikat penolongmu.”
“Terus kalau ada malaikat penolong, apakah salah?”
“Yaaa, tidak. Hanya aneh saja. Apakah setiap perjalanan harus meminta bantuan malaikat? Juno, jawablah dengan jujur, apakah kamu masih akan menghadiri menghadiri reuni tahun depan?”
“Tapi…?”
“Tidak usah pakai tapi-tapian. Berjanjilah Juno. Berjanjilah. Ini demi kebaikan dirimu sendiri. Dengan janjimu, aku tidak akan menggangumu lagi.”
“Baiklah, aku berjanji. Reuni ini yang pertama dan sekaligus yang terakhir. Ingat jangan ganggu aku lagi dengan ceramahmu!” Hati kananku berkata dengan kemarahan.

Nafasku terengah-engah, menahan marah. Jantungku berdetak dengan kerasnya. Aku ambil sebotol aqua yang berada di depanku. Lima teguk aqua dingin cukup memadamkan bara panas di hatiku. Aku pejamkan mataku sebentar sambil menunggu nafas dan jantungku normal kembali.

Aku keluarkan album kenangan yang aku sembunyikan puluhan tahun dari istriku. Foto bersama Dewi dan Putri masih terlihat jelas. Foto hitam putih berbaur dengan warna kekuningan. Alangkah cantiknya mereka berdua.
Yaaa…, itulah kenangan indah yang tidak terlupakan. Aku menjadi lelananging SMA Negeri Kendal, benar-benar sebagai Arjuno. Aku tersenyum sendiri.

“Juno…, teriak dua gadis berseragam SMA, putih dan abu abu. Dari jauh, mereka berlari menujuku. Berebut merangkulku, berebut menciumku. Yaaa, siapa lagi kalau bukan Dewi dan Putri .
“Dimana tempat pertemuannya?” tanyaku.
Dewi dan Putri menunjuk ruang reuni yang bercahaya sangat terang. Dewi memegang tangan kiriku, sementara Putri memegang tangan kananku. Mereka memegangnya dengan erat, sepertinya, takut kehilangan. Bertiga berjalan ke arahnya. Aneh, meski sangat dekat namun ruang tersebut tidak pernah kugapai.

Saya ingin selalu mencatat apa yang ada di fikiran saya, saya tidak mau itu hilang begitu saja, sehingga saya berharap apa yang sempat saya catat di sini bermanfaat bagi semua.

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :

2 Comments

Cerpennya bagus ka,, oya ka coba dikasih lebih banyak space di tiap paragraf biar lebih enak bacanya

Iya kak terimakasih atas sarannya akan saya tinkatkan lagi kak cara penulisannya

Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk berkomentar.
EmoticonEmoticon