Senin, 27 Juni 2022

Cerita Masa Lalu


 

Jantung Hesti berdebar karena siang ini dia akan bertemu dengan pria yang dia kenal melalui aplikasi kencan.

Namanya adalah Andi, seorang pegawai bank yang kelihatannya sudah mapan.

Mereka janji bertemu di sebuah kafe yang berada di Jalan Braga, Kota Bandung.

Andi datang sedikit terlambat karena jalanan Kota Bandung yang macet.

Ditemani dua gelas es kopi susu, mereka pun berbincang banyak mengenai kehidupan mereka masing-masing.

Mereka juga berbicara mengenai pasangan yang mereka inginkan.

Rambut panjang, kulit kecokelatan, wajah yang ayu, dan tutur bicara yang lembut adalah wanita yang diidamkan oleh Andi.

Dia juga mengatakan bahwa Hesti masuk dalam kategori itu.

Bukannya senang, Hesti menjadi terlihat kikuk, kemudian meninggalkan Andi.

“Maaf, permisi,” kata Hesti singkat.

Andi yang heran langsung mengejar Hesti.

Dia menemukan Hesti duduk di kursi kayu sisi trotoar jalan Braga.

Wajahnya menunduk seperti yang sedang sedih.

Andi duduk di sampingnya dan menanyakan alasannya bertingkat seperti itu.

“Aku juga menyukaimu, Andi,” kata Hesti.

“Lalu, kenapa kamu kabur? Kita bisa memulainya dari awal jika kamu tidak ingin terburu-buru memulai hubungan,” kata Andi.

“Aku hanya takut.”

“Takut apa?” tanya Andi heran.

“Aku takut kamu tidak bisa menerima masa laluku,” kata Hesti.

“Bisa Hes. Aku bisa menerima masa lalumu sehancur apa pun. Siapa aku berhak menghakimi kamu? Aku pun bukan orang suci,” kata Andi.

Lalu Andi menggenggam tangan Hesti dan mulai berdiri.

Hesti yang tadinya tertunduk, kini wajahnya terangkat dan menatap mata Andi.

Andi kemudian berdiri dengan tangannya masih menggenggam tangan Hesti.

“Ayo, tidak perlu bersedih. Kita lanjutkan kencan yang belum selesai,” kata Andi sambil tersenyum.

Namun, yang ada di kepala Hesti hanyalah, “Apa yang dia lakukan jika tahu…”

Andi pun menggandeng tangan Hesti dan mulai mengajak Hesti berjalan-jalan.

Hati Hesti sebenarnya senang melihat Andi menggandengnya dengan penuh percaya diri dan rasa bangga.

Namun, Hesti tidak bisa berhenti berpikir.

“Apa yang akan dilakukannya jika tahu?” kata Hesti dalam hati.

Andi tetap menggandengnya dan mengajaknya ke sebuah rumah makan yang cukup fancy.

Namun, di pikiran Hesti hanyalah, “Apa yang dilakukannya jika tahu…”

“Kalau aku seorang waria?” tanyanya dalam hati.


Saya ingin selalu mencatat apa yang ada di fikiran saya, saya tidak mau itu hilang begitu saja, sehingga saya berharap apa yang sempat saya catat di sini bermanfaat bagi semua.

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :

Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk berkomentar.
EmoticonEmoticon