Sabtu, 14 Mei 2022

Fokus Ke Depan, Jangan Belakang



Siang itu Viktor dan Budi duduk di sebuah taman. Tak selang beberapa lama lewatlah seorang berpakaian wanita dengan rambut panjang dan sepatu yang tinggi. Sontak keduanya melihat ke arah wanita tersebut. Dan tentu saja keduanya memiliki keniatan untuk mengikuti wanita tersebut.


Karena penasaran, keduanya pun mengikuti ke mana wanita tersebut itu berjalan. Ternyata ia berhenti pada sebuah cafe. Keduanya pun mengikutinya hingga masuk ke dalam. Namun sayangnya tak menemukan wanita yang diikutinya.


Mereka pun mencari hingga ke lantai dua dalam cafe tersebut,  ternyata memang benar wanita yang diikutinya tersebut ada di lantai dua.


Namun sayangnya keduanya tak memiliki keberanian untuk menegur sang wanita. Sehingga mereka hanya mampu mendengarnya dari belakang. Hingga sangat lama, karena asa penasaran yang begitu besar, maka Viktor pun memiliki keberanian untuk menyapa sang wanita.


Dari belakang, Viktor pun menepuk pundak snag wanita sambil mengatakan “Hai”. Sang wanita pun menoleh ke arah Viktor. Sontak Viktor pun kaget dengan wajah yang aman sangat menyesal dan malu. Sebab wanita yang diikuti bersama Budi bukanlah wanita, namun pria yang menyamar sebagai wanita.


Suatu hari Ali dan Indra sedang berbincang-bincang di pinggir lapangan saat istirahat sedang berlangsung. Ali dan Indra berada di satu kelas yang sama yaitu kelas 12. Sudah satu minggu teman mereka Andi tidak kunjung masuk.


Kabarnya Andi sedang sakit dan dirawat. Indra yang merupakan tetangga sebelah rumah Andi pun sering ditanyakan bagaimana kabar Andi. Ali pun ikut menanyakan pada Indra,


“Ndra, keadaan Andi bagaimana? Sudah kembali dari rumah sakit belum?” Indra yang sudah sering mendapatkan pertanyaan ini pun menjawab dengan nada lemas dan malas.


“Indra sudah meninggal, Li” kira-kira seperti itulah bunyi jawaban yang didengar oleh Ali.


Karena suara di pinggir lapangan terlalu kencang ternyata Ali salah mendengar.


“Apa Andi sudah meninggal Ndra?”


Lalu Indra menjawab dengan suara yang lebih kencang, “Sembarang kamu Ali. Maksud aku Andi sudah mendingan bukan meninggal.”


“Oh.” Jawab Ali sambil tertawa karena terkejut setelah salah mendengar kabar kondisi Andi.


Si Gareng dan si Semar pergi ke pasar baru, senang membeli sepatu futsal dipasar tersebut. si Gareng senang beli sepatu membuat dia sekalian senang bayarin sepatu termasuk membuat si Semar. Setelah keliling2 di seputar pasar tersebut selanjutnya mereka berhenti di suatu toko yang menjajakan sepatu futsal dan mereka mendapatkan sepatu yang diinginkan di toko tersebut.


Mereka pun telah sepakat dan deal tentang harga bersama si penjajal sepatu tersebut, untuk 2 gunakan sepatu dihargai Rp300.000. Namun sesudah senang membayar, ternyata duit cash yang Gareng bawa hanya Rp 100 ribu. Kemudian si Gareng menyita inisiatif menyuruh Semar ke ATM untuk ambil uangnya di atm. maka dikasihlah dompet si Gareng ke si Semar.


Gareng: “Mar!”


Semar: “Iya Reng, jadi gimana nih?”


Gareng: “Lo ke atm, terus ambilin duit 200 ribu aja di mesin itu pake kartu atm gue, lo tau kan cara ambil duit di atm?”


Semar: “Ya bisalah, lo kira gue orang cupu, ngambil duit di atm aja gak tau huh! Jangan ngeremehin gitulah.”


Gareng: “Yaudah nih bawa dompet gue, nanti ambil duitnya pake kartu gue. Terus kalo ada apa-apa lo telpon gue. Buruan sana, gue enggak enak mirip abang penjualnya kalo kelamaan, nanti dikira lagi pura-pura beli tapi enggak punya duit.”


Semar: “Oke gue berangkat, lo standby hp aja. Nanti gue telepon lo kalo duitnya udah gue ambil ok boss?”


Gareng: “Yaudah sana berangkat, gue tungguin cepet!”


(Setelah 15 menit menunggu, tiba2 si Semar nelpon ke hp si Gareng).


Semar: “Reng, waduh celaka kita.”


Gareng: “Celaka gimana maksud lo?”


Semar: “Duit lo gak bisa diambil, kartu lo di tolak terus sama atm, gue udah nanya ke satpam, katanya kartu lo tuh enggak bisa, bakalan keluar terus kalo masukin ke atm.


Gareng: “Ah masa sih, padahal kan gue baru aja ganti itu kartu. Masa gak bisa?”


Semar: “Duh gimana nih? Mending batalin aja beli sepatunya dan lo kabur diem-diem dari si abang itu. Besok lo tanyain ke banknya kenapa kartunya ga bisa dipake.”


Gareng: “Emang kartunya yang mana yang lo masukin?”


Semar: “Itu tadi gue masukin kartu yang ada nama, tanggal lahir, alamat sama agama lo ke mesin itu.”


Gareng: “Sampe taun jebot dan gajah bisa ngelahirin onta pun kagak bakal bisa, ktp kok buat ambil duit di ATM.”

Indahnya Berbagi Dengan Teman




Pagi itu hujan turun dengan deras. Ani merasa bingung bagaimana untuk berangkat ke sekolah. Ketika sedang memandang hujan, terdengar suara HP berdering dari kamar Ani, lantas saja Ani masuk ke kamar dan menjawab telepon.


Ternyata yang menghubungi Ani adalah Lia sahabatnya. Dalam teleponnya Lia mengatakan bahwa ia akan menjemput Ani, sebab Lia tahu jika Ani sedang kebingungan bagaimana untuk pergi ke sekolah.


Tak selang berapa lama, Lia sudah sampai di depan rumah Ani bersama ayahnya menggunakan mobil. Ani pun bergegas berpamitan pada orang tuannya dan keluar untuk menemui Lia.


Setelah sampai di sekolah, yang merupakan teman sebangku tersebut pun masuk menuju kelasnya. Istirahat pun tiba, keduanya pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa lapar. Ketika hendak membayar ternyata Lia lupa membawa dompet. Sehingga Ani sang sahabat membayarkannya.

Sahabat Selamanya




Saat ini aku berada di kelas 3 SMP, setiap hari kujalani bersama dengan ketiga sahabatku yaitu Aris, Andri, dan Ana. Kita berempat sudah bersahabat sejak kecil.


Suatu saat kami menulis surat perjanjian persahabatan di sobekan kertas yang dimasukkan ke dalam sebuah botol, kemudian botol tersebut dikubur di bawah pohon yang nantinya surat tersebut akan kami buka saat kami menerima hasil ujian kelulusan.


Hari yang kami berempat tunggu akhirnya tiba, kami pun menerima hasil ujian dan hasilnya kita berempat lulus semua.


Kami serentak langsung pergi berlari ke bawah pohon yang pernah kami datangi dan menggali tepat di mana botol yang dahulu dikubur berada.


Kemudian, kami berempat membuka botol tersebut dan membaca tulisan yang dulu pernah kami tulis. Kertas tersebut bertuliskan “Kami berjanji akan selalu bersama untuk selamanya.”


Keesokan hari, aris berencana untuk merayakan kelulusan kami berempat. Malamnya kami berempat pergi bersama ke suatu tempat dan di situlah saat-saat yang tidak bisa aku lupakan karena aris berencana untuk menyatakan perasannya kepadaku. Akhirnya aku dan anis berpacaran.


Begitu juga dengan Andri, dia pun berpacaran dengan Ana. Malam itu sungguh malam yang istimewa untuk kami berempat. Kami pun bergegas untuk pulang.


Ketika perjalanan pulang, entah mengapa perasaanku tidak enak.


“Perasaanku ngga enak banget ya?” Ucapku penuh cemas.


“Udahlah ndi, santai aja, kita ngga bakalan kenapa-kenapa” jawab andri dengan santai.


Tidak lama setelah itu, hal yang dikhawatirkan Nindi terjadi.


“Arissss awasss! di depan ada juang!” Teriak Nindi.


“Aaaaaaaaaa!!!”


Bruuukkk. Mobil yang kami kendarai masuk ke dalam jurang. Aku tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir sampai aku tidak sadarkan diri.


Perlahan aku buka mataku sedikit demi sedikit dan aku melihat ibu berada di sampingku.


“Nindi.. kamu sudah sadar, Nak?” Tanya ibuku.


“Ibu.. aku di mana? Di mana Ana, Andri, dan Aris?” tanyaku.


“Kamu di rumah sakit Nak, kamu yang sabar ya, Andri dan aris tidak tertolong di lokasi kecelakaan” Jawab ibu sambil menitikkan air mata.


Aku terdiam mendengar ucapan ibu dan air mataku menetes, tangisku tiada henti mendengar pernyataan ibu.


“Aris, mengapa kamu tinggalkan aku, padahal aku sayang banget ke kamu, aku cinta kamu, tapi kamu ninggalin aku begitu cepat, semua pergi ninggalin aku.” batinku berkata.


Lantas, 2 hari berlalu dan aku berkunjung ke makam mereka, aku berharap kami bisa menghabiskan waktu bersama sampai tua. Tetapi sekarang semua itu hanya angan-angan. Aku berjanji akan selalu mengenang kalian.

Sinopsis Buku Cerita Sang Waktu

Tags

 



Pribadi yang termotivasi terlihat lebih menarik bagi orang lain dan menjadi penarik motivasi bagi orang yang melihatnya. Semua orang membutuhkan motivasi, baik orang tua maupun anak muda. Kebanyakan orang menjadi jenuh, karena kehilangan sesuatu yang memotivasi diri sendiri. Dengan adanya dorongan motivasi, manusia akan bergerak untuk menggapai apa yang diinginkan.

Seseorang yang menarik dan menyenangkan adalah berwawasan luas, selalu tampak rendah hati daan optimis. Setiap diri kita memiliki bakat. Jangan membatasi bakat yang diberikan oleh Tuhan. Potensi yang telah ada seringkali terhambat oleh hal-hal yang membajak mental. Temukan potensi, gunakan, asah dan kembangkan. 

Buku berjudul, “Cerita Sang Waktu” mengajarkan kepada kita agar selalu bersemangat dalam menghadapi suatu permasalahan kehidupan dalam percintaan, kesakitan dan solusi yang terkupas dalam kata-kata puitis. Melihat dari sudut pandangan yang berbeda. Motivasi selalu dibutuhkan oleh manusia, dengan adanya motivasi manusia akan mengalami banyak perubahan. Membahas persoalan orang orang tua, dewasa, remaja bahkan anak-anak. Buku ini menceritakan banyak hal yang harus dilalui manusia yang hidup dengan sejati.

“Aku Lelah untuk berjuang

Dan

Aku juga letih untuk terus begini”(Rara Dika).

Semuanya akan terkupas dalam buku “Cerita Sang Waktu”.


Perempuan Cerdas Menghasilkan Generasi Emas

Tags




Makin tahulah saya, bahwa didikan yang mula-mula itu bukan tidak besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian hari. Dan betapakah seorang ibu sanggup mendidik anak, bila mereka sendiri tidak berpendidikan?” (penyampaian pemikiran R.A Kartini).


Penyampaian tersebut tidak membuat perempuan di Indonesia sadar akan hal kewajiban berpendidikan bagi diri mereka sendiri. Semua terbukti di era modern saat ini, banyak dengan pengguna sosial media menghalalkan segala cara untuk mencapai keeksistensiannya dengan mengunggah video-vidio yang tidak beredukasi dan menjatuhkan orang lain. Sosial media memang mendekatkan yang jauh tapi membuat yang dekat saling tidak peduli. Hal-hal semacam ini perlu dibenahi karena inilah bibit genarasi mendatang. Apa yang terjadi jika generasi mendatang tidak memiliki rasa peduli terhadap sesama?.


Sosial media memang memiliki berjuta manfaat, tapi pernahkah kita membahas  dampat negatif yang terjadi. Banyak dari para pengguna sosial melupakannya. Pengguna sosial media memang tidak dibatasi rentang usia, yang tua penasaran, yang muda cari kepopuleran. Ironisnya banyak anak dibawah umur yang sudah memiliki media sosial media. Pengguna yang masih dibawah umur seperti mereka harus mendapatkan perhatian ekstra dari orang tua, dengan banyaknya situs-situs yang mudah diakses dan tidak layak ditonton untuk usia mereka. Jika situs seperti ini berlangsung terus-menerus tanpa adanya tindak lanjut, maka dapat merusak mental anak bangsa. Zaman yang semakin modern  memudarkan rasa peduli terhadap sesama, anak-anak akan cenderung bergantung pada gawai yang dimiliki dibanding bermain bersama kawan sebayanya.


Berdasarkan gender, pengguna sosial media ini didominasi oleh perempuan mencapai 51% disbanding pria hanya 49%. Perempuan cenderung lebih mementingkan popularitasnya di sosial media.[1] Sekedar membagikan aktivitas yang sedang dilakukan ataupun memamerkan barang-barang koleksinya seperti tas, sepatu, dan perhiasan. Mereka belomba-lomba mencari followers(pengikut) di sosial media yang mereka miliki untuk dijadikan acuan sebuah kepopulerannya. Banyak diantaranya menghalalkan segala cara untuk mencapai target kepopulerannya, seperti mengunggah foto-foto yang tak senonoh, ataupun menggunggah video transformasi dari rupa yang jelek menjadi cantik. Foto-foto maupun video yang mereka unggah, dapat diakses oleh semua pengguna media sosial, sehingga dapat memancing terjadinya hal yang kurang baik. Belum lama ini ada sebuah kejadian dimana siswi SMA menjadi orang ketiga di rumah tangga seseorang, bahkan memamerkan foto-foto syur mereka ke jejaringan tiktok. Terungkap bahwa alasannya adalah untuk membantu biaya kebutuhan sekolah. Bahkan Ketika sang istri secara terang-terangan menyindir kelakukan siswi tersebut, sikap dan kelakuan sang siswi tidak menunjukan rasa penyesalan  dan permohonan maaf. Miris melihat perempuan zaman sekarang lebih yang tidak memiliki. Tuntutan ekonomi menjadi alasan utama ketika mereka ditanya mengapa mau melakukan pekerjaan tersebut.


Perempuan adalah tiang negara, jika perempuannya rusak maka hancurlah negara tersebut. Jika perempuannya rusak maka, bagaimana nasib bangsa kita kedepannya? Bukankah para perempuan yang akan melahirkan pemimpin dan penerus bangsa ini. Perempuan memiliki peran dan potensi besar untuk membentuk wajah masa depan suatu bangsa. Tentunya, masa depan yang lebih baik, cerah dan gilang-gemilang akan dapat hadir jika para perempuannya berkualitas. Maka ada suatu hal yang masuk akal bagi seluruh elemen bangsa untuk menaruh perhatian yang besar dalam upayanya untuk mencetak perempuan-perempuan berkualitas. Di zaman yang sudah modern seperti saat ini, masih ada yang memperlakukan wanita secara berbeda, maksudnya masih ada jarak antara hak laki-laki  dan perempuan. Di desa masih banyak perempuan yang tidak diperbolehkan  menempuh pendidikan formal  dengan alasan, “Wanita itu tugasnya ngurus anak”. Lalu, bagaimana menciptakan generasi yag berkualitas jika sang pendidik dasarnya tidak memenuhi kualitas yang ada.


Klarifikasi perempuan yang berkualitas seperti, pertama, perempuan yang berkualitas adalah sosok yang cerdas dan terdidik. Perempuan berkualitas  merupakan salah satu dasar untuk menciptakan generasi berkelas. Dari seorang perempuanlah manusia memperoleh didikannya; anak-anak belajar berbicara, berpikir, dan merasai sesuatu. Walaupun tanggung jawab pendidikan sang anak merupakan tugas kedua orang tua, seorang ibu memiliki intensitas kedekatan dan kelekatan yang lebih dengan sang anak, itu merupakan hal yang tidak bisa tergantikan. Perempuan berkualitas adalah perempuan yang terdidik, cerdas, dan yang paling utama berakhlaq dan burbudi mulia. Sehingga akan terlahir generasi yang cerdas pikirnya, baik pekertinya, dan terampil perbuatannya. Oleh sebab itu, pendidikan bagi perempuan  harus terbuka dan ditingkatkan secara terus menerus. Kedua, perempuan berkualitas adalah sosok perempuan yang sadar akan potensi yang dimilikinya dan mampu mengembangkannya. Masa depan suatu bangsa ditentukan dari masing-masing manusianya, termasuk juga perempuannya. Kontribusi dapat berjalan maksimal jika sesuai dengan kemampuannya. Potensi dan kapasitasnya yang dimiliki oleh masing-masih individu. Perempuan berkualitas adalah sosok yang mampu berkontribusi  bagi lingkungan dan bangsanya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.


Tetapi perempuan berkualitas yang ada dizaman sekarang, jauh memilih manjadi wanita berkarir dibanding mengurus anak, terkadang mereka menyewa pengasuh untuk merawat anaknya. Fenomena seperti ini membawa dampak psikologi bagi sang anak, seperti  kurang perhatian dari orang tua, kurang kasih sayang dan membuat sang anak mencari perhatian dari lingkungannya, contohnya kenakan remaja yang marak terjadi saat ini, salah satunya dipicu oleh kurangnya perhatian dan kasih sayang yang diberikan orang tua.


Seorang ibu merupakan kunci keberhasilan seorang anak dan tentunya keberhasilan anak akan mempengaruhi sebuah negara. Seorang ibu wajib memiliki kecukupan ilmu pengetahuan untuk dapat mengarahkan anak-anaknya kepada kebaikan serta menjadi teladan bagi anak-anaknya.



[1] Menurut hasil riset nasional Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2014

Perempuan Cerdas yang Menghasilkan



“Kau ialah betina, kalau kau cuma tahu soal makan, tidur, bersolek dan kawin. Banyaklah belajar, berpikir besar, rancanglah masa depan dan pandai-pandailah menempatkan diri, maka kau boleh disebut Wanita. Tapi, untuk menjadi perempuan kau juga harus memiliki kesadaran, ketulusan dan bisa menjadi tempat berpulang serta kuat tuk dijadikan pijakan.” – Lenang Manggala, Perempuan Dalam Hujan : Sealbum Puisigrafi.


Jika kita meresapi kata tiap kata di dalam kutipan di atas maka dapat kita garis bawahi 3 kata yang menjadi perhatian, kata tersebut adalah betina, wanita, dan perempuan. Lenang Manggala seolah membuat derajat dari tiga kata tersebut. Sebutan betina yang biasa kita pakai untuk binatang, menempati tempat paling rendah, sebutan Wanita yang biasa kita pakai untuk manusia yang menempati lebih tinggi dari betina, dan perempuan yang juga biasa kita gunakan untuk manusia digambarkan lebih lenggap sehingga menempati urutan paling tinggi.


Berbicara mengenai urutan paling tinggi yaitu perempuan, maka yang terbesit dalam pikiran saya adalah perempuan yang tidak hanya cantik fisik akan tetapi juga cerdas dalam berpikir dan cakap dalam bertindak. Kenapa saya memilih perempuan untuk dibahas? Karena dunia terlalu keras jika seorang perempuan hanya tahu cara mengandalkan kecantikan fisik, terlebih rupa. Seharusnya perempuan saat ini harus menjadi penentu garda terdepan bangsa ini, bukan hanya bersolek saja.


Dimulai dari jenjang pendidikan di tingkat bawah SD, SMP, SMA, perempuan harus belajar mandiri, bersikap disiplin, cerdas intelektual, mapan spiritual juga. Karena apabila dijenjang tersebut perempuan sudah punya dasar seperti itu, maka kedepannya akan tertanam nilai-nilai yang baik untuk menuju masa depan bangsa yang unggul, dan kompetitif. Perempuan juga salah satu aset bangsa yang juga perlu untuk diperhatikan dan dibimbing. Mereka dari dasar harus diberikan materi yang bisa membangun karakter mereka dari sejak dini. Terlebih di lingkungan keluarga dimana para perempuan mendapatkan pendidikan dari nol, dari kedua orang tuanya terlebih ibunya.


Di tingkat perguruan tinggi seorang perempuan seharusnya jangan menjadi mahasiswi kupu-kupu , dimana habis kuliah selesai langsung pulang ke rumah atau ke kos masing-masing. Seharusnya para perempuan pembawa perubahan tidak hanya menghabiskan waktunya di dalam kelas, tetapi dengan ikut organisasi atau kegiatan ekstra kampus lain. Agar nantinya bekal untuk bermasyarakat bisa didapatkan dengan terorganisir. Belajar dalam bangku perkuliahan di dalam kelas bisa dikatakan hanya 40%, selebihnya kita harus dapatkan di luar kelas, salah satunya dengan berorganisasi.


Pentingnya berorganisasi disini adalah bagaimana kita sebagai perempuan untuk kedepannya bisa bersaing dengan kau adam. Meskipun kodrat sebagai perempuan tidak boleh melebihi laki-laki terlebih suami kita nantinya. Apalagi perempuan seperti kita yang sudah medapatkan materi gender dalam organisasinya, bagaimana cara bermasyarakat yang baik, menyusun program kerja dengan terencana dan rapi, semuanya menjadi bekal bagi perempuan untuk hidup bermasyarakat jika telah meninggalkan bangku perkuliahan.


Jangan hanya namanya membesar di kampus tapi mengecil kalau sudah balik pinggiran atau pulang ke kampung halamannya. Sudah banyak faktanya mahasiswa sekarang kalau di kampus namanya membesar sebagai ketua organisasi, ketua dema, dan lain sebagainya. Tetapi nama mereka mengecil ketika sudah ada di daerah asalnya. Memang yang paling penting dan yang paling utama adalah kesadaran dari individunya masing-masing.


Dewasa ini di kampus-kampus besar banyak mahasiwi hanya niat kuliah dengan ajang adu pamer kecantikan, make up yang tebal, fashion yang tidak sewajarnya, yang tidak mencerminkan kalau yang bersangkutan masih seorang pelajar. Pola gaya hidup inilah yang menjadi salah satu penghambat bahwa perempuan seakan menutup mata tentang pentingnya sosok perempuan yang cantik, cerdas, tangguh dan cakap. Modal perempuan seperti ini yang selalu mengagung-agungkan kecantikan rupa layaknya dewa.


Seiring dengan perkembangan zaman era milenial seperti saat ini, perempuan harus dihadapkan pada persoalan-persoalan rumit negara ini. Bagaimana tidak, adanya kasus korupsi, impor beras, kasus pembunuhan, permasalahan seperti ini bukan hanya menjadi tugas seorang laki-laki, akan tetapi juga menjadi tugas seorang perempuan sebagai warga Indonesia. Perempuan harus bisa menjadi agent of change bangsa ini.


Banyak sekali para perempuan Indonesia yang terjun dalam dunia politik, bahkan menjadi orang-orang terpandang di ranahnya. Salah satunya Ibu Risma (walikota Surabaya), Ibu Susi (mentri kelautan). Mereka adalah sosok kartini modern harapan bangsa. Di tangan mereka Indonesia diharapkan bisa lebih baik, berkompeten untuk bersaing dengan dunia luar.


Jangan karena kita sebagai perempuan, lantas kemudian kita takut untuk mecoba hal baru mengikuti jejak para kartini kita yang sudah berhasil memajukan negara kita dan berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Kita sebagai pembawa perubahan, masa depan bangsa ada di tangan kita maka sudah seharusnya kita juga ikut andil memajukan bangsa meskipun dari hal yang terkecil terlebih dahulu. Saat ini Indonesia benar-benar butuh pemuda yang tidak hanya pintar secara keilmuan, tetapi juga moralitas yang baik.


Kalau berbicara masalah orang pintar di negara kita, sebenarnya sudah terlalu banyak. Akan tetapi mirisnya, kepintaran yang mereka punya dijadikan sebagai alat untuk memperbudak rakyat kecil, membodohi rakayat kecil yang tidak tahu apa-apa. Mereka yang dijuluki “tikus berdasi”, seharusnya sadar bahwa mereka dipilih oleh rakyat karena sudah memberikan kepercayaan penuh terhadap wakil rakyat yang dianggap bisa menyalurkan aspirasi mereka dengan baik. Faktanya para wakil rakyat yang ada di kusi pemerintahan dengan seenaknya melakukan korupsi, berfoya-foya tanpa memikirkan rakyat kecil yang susah payah mencari sesuap nasi, menyekolahkan anaknya dan lain sebagainya.


Kesekian kalinya perlu ditekankan bahwa negara kita akan baik-baik saja, jika para penyelenggara negara dan jajarannya bisa mengemban amanah dengan baik, bisa memposisikan antara kepintaran akal dan akhlak dengan baik. Percuma banyak orang pintar tapi akhlaknya rusak mau dibawa kemana negara kita ini?.


Lagi-lagi disini perempuan harus bisa lebih baik lagi dari laki-laki. Kedepannya Indonesia akan dihiasi dengan wajah-wajah baru dari para kartini modern yang menduduki jabatan penting di kursi pemerintahan. Diharapkan dengan adanya wajah baru inilah yang akan membawa negara menjadi lebih baik dan bermartabat di kencah Internasional.


Untuk saat ini sosok perempuan yang benar-benar dibutuhkan bangsa adalah sosok perempuan yang bermoral baik, jujur, disiplin, mempunyai komitmen dan semangat yang tinggi, mau mengabdi dengan setulus hati kepada bangsa, pemimpin yang amanah dan memiliki sifat profesionalitas.