Senin, 27 Juni 2022

Cerita Masa Lalu


 

Jantung Hesti berdebar karena siang ini dia akan bertemu dengan pria yang dia kenal melalui aplikasi kencan.

Namanya adalah Andi, seorang pegawai bank yang kelihatannya sudah mapan.

Mereka janji bertemu di sebuah kafe yang berada di Jalan Braga, Kota Bandung.

Andi datang sedikit terlambat karena jalanan Kota Bandung yang macet.

Ditemani dua gelas es kopi susu, mereka pun berbincang banyak mengenai kehidupan mereka masing-masing.

Mereka juga berbicara mengenai pasangan yang mereka inginkan.

Rambut panjang, kulit kecokelatan, wajah yang ayu, dan tutur bicara yang lembut adalah wanita yang diidamkan oleh Andi.

Dia juga mengatakan bahwa Hesti masuk dalam kategori itu.

Bukannya senang, Hesti menjadi terlihat kikuk, kemudian meninggalkan Andi.

“Maaf, permisi,” kata Hesti singkat.

Andi yang heran langsung mengejar Hesti.

Dia menemukan Hesti duduk di kursi kayu sisi trotoar jalan Braga.

Wajahnya menunduk seperti yang sedang sedih.

Andi duduk di sampingnya dan menanyakan alasannya bertingkat seperti itu.

“Aku juga menyukaimu, Andi,” kata Hesti.

“Lalu, kenapa kamu kabur? Kita bisa memulainya dari awal jika kamu tidak ingin terburu-buru memulai hubungan,” kata Andi.

“Aku hanya takut.”

“Takut apa?” tanya Andi heran.

“Aku takut kamu tidak bisa menerima masa laluku,” kata Hesti.

“Bisa Hes. Aku bisa menerima masa lalumu sehancur apa pun. Siapa aku berhak menghakimi kamu? Aku pun bukan orang suci,” kata Andi.

Lalu Andi menggenggam tangan Hesti dan mulai berdiri.

Hesti yang tadinya tertunduk, kini wajahnya terangkat dan menatap mata Andi.

Andi kemudian berdiri dengan tangannya masih menggenggam tangan Hesti.

“Ayo, tidak perlu bersedih. Kita lanjutkan kencan yang belum selesai,” kata Andi sambil tersenyum.

Namun, yang ada di kepala Hesti hanyalah, “Apa yang dia lakukan jika tahu…”

Andi pun menggandeng tangan Hesti dan mulai mengajak Hesti berjalan-jalan.

Hati Hesti sebenarnya senang melihat Andi menggandengnya dengan penuh percaya diri dan rasa bangga.

Namun, Hesti tidak bisa berhenti berpikir.

“Apa yang akan dilakukannya jika tahu?” kata Hesti dalam hati.

Andi tetap menggandengnya dan mengajaknya ke sebuah rumah makan yang cukup fancy.

Namun, di pikiran Hesti hanyalah, “Apa yang dilakukannya jika tahu…”

“Kalau aku seorang waria?” tanyanya dalam hati.


Jumat, 24 Juni 2022

Kisah Romantis


 

Malam ini, seperti biasanya sang wanita pelayan kedai itu tetap curi-curi pandang pada seorang pria yang duduk di pojok kedai.

Sang pelayan ingin berkenalan dengan pria itu, tetapi sangat malu untuk berbincang langsung.

“Menyanyilah. Kuputarkan mesin karaoke. Semua pengunjung di kedai kecil ini pasti akan memperhatikanmu, termasuk dia,” kata seorang rekannya.

Dia pun menyetujuinya dan segera mengambil mikrofon.

Benar saja, semua pengunjung kedai memperhatikan sang wanita saat menyanyi.

Semua merasa terhibur, kecuali si pria misterius itu.

Dia masih saja sibuk dengan laptop dan buku di atas mejanya.

Hari-hari berikutnya pun masih sama, sang pria tetap tidak memperhatikan si wanita bernyanyi secara merdu.

Hingga suatu hari, seorang teman pria itu datang.

Si wanita memperhatikan keduanya.

Ternyata, keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Sang wanita kini tahu kenapa si pria tidak memperhatikannya saat bernyanyi.

Merasa jatuh cinta, sang wanita pun mempelajari bahasa isyarat itu selama beberapa minggu Dia membeli beberapa buku dan menonton video berisi pelajaran bahasa isyarat.

Akhirnya, suatu malam, dia kembali bernyanyi untuk pengunjung kedai.

Namun, rekan si pelayan sengaja membuat lampu padam.

Hanya ada dua lampu sorot yang menyorot pria misterius itu dan si wanita.

Sorot cahaya lampu membuat perhatian pria misterius itu teralihkan.

Kini, pandangannya tidak hanya tertuju pada laptop yang berada di atas meja, tetapi juga pada sang wanita.

Sang wanita kini tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menerjemahkan setiap liriknya ke dalam bahasa isyarat.

Jari-jarinya mulai menari untuk memberi tahu si pria soal perasaannya.

Dirimu buatku selalu penasaran
Terkadang menjauh, terkadang buatku tersipu
Malu manisnya ucapanmu, membuatku tak menentu, ku tak tahu harus bagaimana
Sungguh kau buatku bertanya-tanya dengan teka-teki teka-tekimu…

Begitulah senandung yang dinyanyikan si wanita sambil menggerakkan jari jemarinya.

Pria misterius itu lalu tersenyum, lalu mengundang si wanita ke mejanya.

Begitulah kisah cinta pria misterius dan si pelayan kedai dimulai.

Rabu, 22 Juni 2022

Melupakan Prioritas

 



Suara alarm berdering begitu nyaring mengusik tidur nyenyak seorang Nathan. Dia enggan membuka mata namun akhirnya terpaksa ia buka.

“Oh Tuhan!” Nathan kaget melihat jam ternyata sekarang sudah pukul 7 pagi. 

Nathan langsung bergegas mandi dan tanpa sarapan ia berangkat ke kantor. 

Sesampainya Nathan di kantor, Nathan telat mengikuti pertemuan pagi ini karena telah dimajukan lebih awal dari biasanya dengan alasan Bapak Direktur ada keperluan di luar kota.

“Permisi, Pak. Saya Boleh masuk?” Tanya Nathan izin kepada bapak direktur yang memimpin pertemuan.

”Silakan masuk, tapi maaf proyekmu digantikan oleh saudara Arkan.”

“Kenapa pak? Saya hanya telat 15 menit.”

“Maaf saudara Nathan ini bukan masalah lama atau tidaknya Anda terlambat, namun ini tentang ke konsistensi Anda dalam bekerja.” Jelas Bapak direktur  dengan tegas.

Langsung seketika Nathan hanya bisa terdiam dengan wajah pucatnya. 

Setelah pertemuan ini selesai Nathan berjalan gontai pergi menuju meja kerja miliknya.

“Ada apa Nath? Kok telat.”

“Memang salah saya, saya semalam begadang nonton bola, sampai melupakan project penting yang sangat menguntungkan bagi saya.”

“Oalah harusnya kamu harus lebih mengurangi hobimu.” Sambung Meri sedikit memberi nasihat.

Minggu, 19 Juni 2022

Ketika Kita




Sejak saat itu aku merasa muak dengan kata sekolah, entahlah, mungkin karena aku terlalu mengambil hati dan merasa tidak dihargai berada dalam lingkungan mereka. “Kilaa, kamu kemana saja? Sudah 2 hari kamu tidak masuk sekolah” tanya Ibu Ida yang merupakan wali kelasku. “Saya?, ya di rumah Bu,” jawabku singkat. “Kalo kamu di rumah, kenapa orang tuamu tidak memberitahu ibu seperti biasa?” jelas Ibu Ida. “Saya yang minta Bu,” singkatku “Mau saya telepon orang tuamu?” ancam Bu Ida. Saat itu aku hanya memandangi langit-langit ruangan kantor, seandainya yang ada di hadapanku bukanlah orang tua pasti aku akan lawan dan mengelak. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ibu Ida lagi. “Ya bu, saya berbohong dan saya minta maaf, saya bolos tanpa sepengetahuan orang tua saya.” “Ada alasan apa kamu berani bolos seperti itu? Yang Ibu lihat sih kamu sedang ada masalah, kamu itu baru sebulan sekolah di sini dan masih kelas 10 tapi sudah berani bolos,” ucap Bu Ida. “Saya baik-baik saja kok Bu. Lagi malas aja, hehe,” kujawab Bu Ida dengan berbohong. “Ibu bisa baca tatapan matamu yang berbohong Kila, cerita saja sama Ibu, siapa tau Ibu bisa bantu toh.” Aku pun menceritakan apa yang sedang kualami saat ini, merasa tidak dihargai dan dikucilkan karena aku berbeda dengan mereka. Perbedaan membuat mereka tidak menghargaiku, mereka berbicara seenaknya dan tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Terkadang aku hanya diam dan mencoba untuk bersabar, tapi rasanya kesabaran itu hilang ketika mereka benarbenar tidak menganggapku lagi. “Kenapa kamu mengambil hati? Mungkin mereka hanya ingin bercanda dan ingin dekat denganmu,” jelas Bu Ida. “Bercanda gak harus kaya gitu kan Bu? Mereka keterlaluan Bu, kadang mereka membicarakan aku dibelakang dan suka mengejekku.” “Ya memang, tapi tidak semua seperti itu, karena masih ada kok yang berteman sama kamu. Kamu hanya melihat sebelah mata Kila, cobalah lihat yang lain.” “Iya Bu ada, tapi saya jera dengan ledekan-ledekan seperti itu. Ada beberapa yang membuat saya jadi malas. Pertama, ada Joko yang suka menganggap dirinya paling benar Bu, dia kayanya benci Bu sama saya. Setiap saya ajak bicara dia selalu tertawa dan tidak menganggap saya. Kedua, Lita dia terkadang baik sekali tapi dia tiba-tiba berubah judes kalau sudah bergabung dengan teman-temannya. Yang terakhir ada Bani yang suka menyontek sama saya Bu. Tapi dia tidak pernah bilang terima kasih sama saya Bu,” jelasku lagi supaya Bu Ida mengerti akan persoalanku. “Nanti Ibu akan panggil siapa yang meledek kamu tadi. Sekarang Ibu harap kamu jangan malas untuk ke sekolah dankamu harus fokus mengikuti setiap pelajaran yang ada. Kamu itu pintar jadi sayang kalo disia-siakan. Mengerti? Nanti ibu akan minta penjelasan sama mereka sekarang kamu boleh kembali ke kelas,” Bu Ida mencoba menenangkanku dan memberi saran yang baik. Setelah aku pikir-pikir lagi tidak ada salahnya jika aku menuruti saran yang Ibu Ida berikan. “Baik Bu, saya minta maaf karena sudah bolos sekolah, saya tidak akan mengulanginya lagi Bu,” balasku dengan kepala tertunduk. Aku pun kembali ke kelas, seperti biasa aku hanya duduk diam dan mendengarkan penjelasan dari guru.

 * * * 

Beberapa jam kemudian. “Permisi, maaf bu saya ada perlu dengan Kila.” Seorang lakilaki yang meminta ijin pada guru kami untuk memanggilku karena ada keperluan. Aku pun keluar sembari memikirkan apa yang akan terjadi. Entahlah. “Ada apa ya?” tanyaku saat di depan kelas. “Ikut aja ayo, Bu Ida panggil kamu,” jawabnya singkat. Aku pun mengikuti laki-laki itu dan melihat lebih jelas, sontak aku teringat bahwa dia adalah salah satu siswa yang sering kali menggangguku. “Selamat siang Bu. Ini Kilanya sudah datang,” sapanya. “Ya, duduk kalian berdua, sebentar Ibu panggilkan yang lainnya,” seru Bu Ida. Kami hanya mengangguk dan duduk manis sambil menunggu Bu Ida memanggil yang lainnya, entah siapa, melalui telepon. Tidak lama kemudian datang segerombolan orang-orang yang selama ini aku tidak sukai, orang-orang yang selalu menggangguku karena sebuah perbedaan. “Ya, karena kalian sudah berkumpul disini, Ibu mau bertanya terlebih dahulu kepada Joko,” seru Bu Ida memulai percakapan serius kami. “Saya bu? Ada apa dengan saya?” Joko kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidaklah gatal. “Joko, kamu kenal perempuan yang di sebelah kamu?” “Ya kenallah Bu, dia kan teman sekelas saya.” “Apa kamu merasa ada yang salah antara kalian berdua?” tanya Bu Ida lagi. “Emmm...” Joko mulai berpikir. “Saya pikir tidak ada Bu, saya berteman baik dengan Kila, iya kan Kila?” jawab Joko dan aku hanya melihatnya dengan wajah kebingungan. “Sekarang Ibu tanya kalian berdua, Lita dan Bani. Kalian juga kenal kan sama Kila?” Ku lihat mereka hanya tersenyum sinis dan mengiyakan pertanyaan Bu Ida. “Ibu kenapa sih nanya-nanya gitu? Kami kan sekelas Bu, ya pasti kami kenal lah, hehhe,” jawab Lita yang sedikit kesal. “Kalian bertiga tidak merasa ada yang salah? Ibu dengar dari Kila kalo kalian suka sekali mengejek dan menyonteknya?” tanya Ibu Ida lebih serius lagi. “Hah? Ngejek Kila? Nyontek?” sontak Joko, Lita, dan Bani menjawab dengan bersamaan. “Hahaha gak lah Bu, masa kita ngeledekin temen sendiri. Ya kalo nyontek kan wajar Bu, saya gak bisa, Kila kan pinter bu,” jawab Bani. “Ya Ibu tau kalo kamu tidak pintar Bani, tapi kamu harus belajar bukan nyontek sama teman!” jawab Ibu Ida sedikit marah. “Baik bu, maafkan kami. Saya suka mengejek Kila karena menurut saya dan teman-teman dia susah untuk bergaul Bu, dia selalu menutup diri untuk bergabung dengan kami,” jawab Lita dengan wajah serius dan sebentar-sebentar dia melirik ke arahku. “Baiklah, Ibu sudah menemukan permasalahannya. Ibu akan membantu kalian berdamai dan menyelesaikan permasalahan ini.” “Bu, kami tidak bermaksud untuk menyakiti Kila, kami pikir kami bisa bergaul baik dengan Kila, ya kami sadar ternyata cara kami bercanda dan itu salah,” seru Joko mencoba menjelaskan. “Iyaaa emang salah bercanda, jangan bawa-bawa kepercayaan kan bisa. Aku emang beda sama kalian tapi jangan ledekin aku dong,” jawabku. “Iya kita minta maaf ya Kil. Tapi harusnya kamu terbuka sama kami, jadi gak ada salah paham kaya gini, maklumi kami juga ya soalnya kami pertama kali dapet temen yang beda agamanya,“ seru Bani. “Tolong maafkan kami dan kami janji gak akan bercanda kelewatan, semoga kita bisa jadi teman dekat ya Kil, dan kita bisa berbagi,” seru Joko lagi yang membuat hati ku sedikit tenang. “Ya udah, aku maafin, soalnya aku diajarin buat maafin orang lain. Dalam keyakinanku, aku diajar untuk mengasihi sesamaku manusia. Jadi aku harus mengampuni kalian, aku gak nuntut banyak kok, cukup hargai aku aja temen-temen.” Mereka pun memahami perkataanku dan hanya mengangguk serta tersenyum padaku. “Nah, seperti ini kan bagus, karena perbedaan itu jika disatukan sangatlah indah. Bayangkan jika pelangi hanya ada satu warna? Akankah dia tampak indah? Tuhan menciptakan pelangi itu dengan berbagai warna, tujuannya adalah supaya menghasilkan warna yang indah. Sama halnya dengan kita, bayangkan jika kita hanya ada satu warna kulit, wajah kita sama semua, memiliki suku yang sama, kepercayaan yang sama sifat yang sama? Kalo semua sama bagaimana kita menerapkan cara menghormati perbedaan? Jadi Ibu harap kalian bisa menjadi teman baik, bergaul dengan baik. Oke?” jelas Bu Ida yang membuatku pun sadar bahwa perbedaan itu memang indah apabila kita bersatu dan hidup secara berdampingan. Setelah kejadian itu, aku pun memiliki banyak teman di kelas. Bukan hanya di kelas saja, tetapi satu sekolah. Aku mulai mengikuti ekstrakurikuler seperti basket, paduan suara, dan drama. Aku begitu menikmati setiap harinya membuatku semangat untuk pergi ke sekolah, belajar, dan bermain bersama-sama dengan teman-temanku. Kami sering kali saling bertukar cerita, bertukar ajaran atau menyamakan berbagai hal yang ada dalam Kitab Suci kami. Ternyata, kami menemukan banyak hal atau ajaran yang sama. Hal itu membuat kami menjadi semakin akrab dan saling menjaga perasaan satu sama lain. Bahkan, orang yang dulu aku kenal jahat ternyata mereka begitu baik dan ceria. Aku salah menilai mereka dan begitu pun dengan mereka yang salah menilaiku. Terima kasih teman karena sudah mau menerima perbedaan ini.

Jumat, 17 Juni 2022

Secuil Cerita




 

“Kiki nulis cerpen yuk” begitulah ajakanku pada Kiki. “Ah, tidak bakat,” jawab Kiki singkat. Ketika kita mengajak sahabat kita untuk mulai menulis jawaban seperti itu mungkin kita akan dengar dari ucapannya. Yang pasti, menulis bukan semata-mata soal bakat melainkan sebuah keterampilan yang dapat terus dipelajari. Semakin rutin menulis maka akan semakin terbiasa kita menulis, oleh sebab itu mulailah menulis. Buku dengan judul Aku, Dia, dan Mereka merupakan sebuah antologi cerpen karya anggota Komunitas Aktif Menulis Indonesia (KAMI) adalah contohnya. Mulai sejak akhir tahun 2015 KAMI mendorong anggotanya untuk terus menulis dan mempublikasikan karyanya baik karya fiksi maupun nonfiksi dengan tujuan agar dapat turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Setelah buku antologi cerpen dengan judul Catatan Harianku yang terbit pada tahun 2016, buku ini adalah antologi cerpen kedua karya anggota KAMI. Beberapa penulis cerpen dalam buku ini adalah kontributor dalam buku Catatan Harianku. Walau demikian beberapa penulis baru juga menjadi kontributor dalam buku ini seperti Ayu Rosi, Kiki Tugarma, Cindy Cici, Putry Desta.

Harapan dari KAMI adalah akan lahir penulis-penulis baru pada tahun-tahun mendatang, sehingga dapat mendukung semangat literasi nasional dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mendukung program tersebut, KAMI melakukan pelatihan menulis secara offline maupun online dan masih terbatas pada anggota komunitas. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya mentor menulis dalam komunitas ini. Harap para anggota yang telah berkarya dapat menjadi mentor bagi calon penulis lainnya.

Senin, 13 Juni 2022

Memilih Bahagia

 



Dani merupakan salah satu anak yang selalu kurang suka melihat temannya bahagia, dia selalu bercerita kepadaku dengan mengatakan mengapa pundak orang lain seperti tak diberi beban. Seolah-olah hanya pundaknya yang berat dengan beban.

“Dik, kok gue aneh ya kenapa sih hidup orang itu lurus-lurus aja, sedangkan gue kesusahan buat baik baik aja?” katanya saat itu.

Hari itu aku katakan kepadanya bahwa, beban hidupmu akan terasa berat jika terus membandingkan hal yang tidak sepenuhnya dia ketahui. Padahal,dia sendiri tidak mengetahui seberat apa orang lain, orang yang menurutnya lurus-lurus saja hidupnya, memiliki beban seperti apa dan perjuangan yang telah orang tersebut menangkan.

Lalu, dia hanya terdiam memikirkan perkataanku saat itu. Kadang, menasihati orang lain itu lebih mudah daripada menasihati diri sendiri. Akupun kadang melakukan kebiasaan buruk itu, membanding-bandingkan sesuatu.

Dulu, seseorang juga yang menasihatiku bahwa Tuhan menciptakan setiap pundak memang untuk diberi beban, tergantung kita merasa terbebani atau tidak.

“Untuk porsi jangan dipertanyakan, ya. Karena Dia Maha Segalanya termasuk perihal keadilan.” Ujar seseorang itu padaku dulu.

Pada akhirnya ini tergantung dari sikap yang kita pilih, ingin memilih terbebani ataukah bahagia. Waktu pun akan terus berjalan tanpa peduli siapa yang aku pilih. Sungguh sangat merugi Ketika waktu tak lagi berputar dan aku masih saja bergelut dengan apa-apa yang terasa membebani.

Untuk itu, aku memilih bahagia dan menjatuhkan diri pada syukur sebanyak banyaknya. Pada tiap-tiap hikmah yang bertebaran di manapun aku berpijak, atas semua suka maupun duka dalam alur kisah hidup yang aku jalani yang telah dirancang oleh-Nya.

Sabtu, 11 Juni 2022

Malaikat Baik


 "Juno, jangan lupa yaaa, reuni emasnya,” kata Ninuk melalui WA.

“Yooo, insyah Allah, aku hadir.”
“Juno, sampeyan ditunggu sama Dewi dan Putri,” kata Ninuk lebih lanjut.
“Ha…, ha…, ha…, salam yaaa, untuk mereka.”

Sebagai teman satu kelas sejak Kelas 1A, kelas II Paspal sampai kelas III Paspal, SMA Negeri Kendal. Ninuk tahu betul tentang diriku.
Dewi, pacarku yang pertama, sejak kelas 3 di SMP Kendal dan berlanjut di SMA N Kendal. Kebetulan aku dan dia sama-sama satu kelas di kelas 1/A. Kenangan yang tidak pernah aku lupakan adalah ciuman pertamaku sehabis nonton film “Pengantin Remaja”. Film romantis yang dibintangi Widyawati dan Sophan Sopian. Banyak adegan romantis merasuk dalam benakku. Di bawah pohon mangga yang berada di samping rumahnya, dengan keberanian yang aku paksakan aku cium bibirnya yang mungil. Gigiku beradu dengan giginya. Sama-sama belum pernah ciuman. He…, he…, he…

Sayangnya, Dewi selingkuh dengan mahasiswa dari suatu perguruan tinggi ternama di Semarang. Sebagai lelanangin di sekolah, aku benar benar dibuat KO. Sempat beberapa bulan aku shock. Beruntung teman-teman satu kelas memberikan dorongan kepadaku untuk tidak terlarut kesedihan dengan Dewi. Aku bangkit kembali, menggandeng Putri sebagai pacarku kedua. Aku pacaran dengannya ketika kelas II. Aku kelas II Paspal dan Putri kelas II Sosbud. Hobbynya outboud. Setiap dua minggu sekali ngajak ke hutan wisata. Berkejaran, main petak umpet, arum jeram, dan permainan lainnya.

“Juno, cari aku!” teriaknya dari tempat persembunyian.

Aku lepaskan tutup mataku, pura-pura mencarinya. Padahal aku sudah tahu. Selalu dibelakang pohon. Dengan mengendap ngendap, aku dekap dari belakang.
“Ketangkap.”

“Juno, tutup matanya lagi.”
Aku ikutin apa katanya. Ternyata Putri menciumku dengan mesra.

“Kriiiiii…ng,” aku tersadar dari lamunanku.
Kini, usiaku telah menginjak 67 tahun. Keinginan untuk jumpa dengan Dewi dan Putri serta teman-teman satu angkatan mengalahkan fisikku yang telah renta. Apalagi ini merupakan reuni pertamaku. Lima puluh tahun tidak ketemu, waktu yang begitu lama. Aku ingin menatap wajah mereka berdua yang pernah mengisi relung hatiku.
“Ayah…, apakah perlu diantar ke Bandungan?” anakku menawarkan diri.
“Ndak usah, ayah masih kuat. Ayah belikan tiketnya saja.”

Tibalah hari yang dinanti.
Selesai sholat Subuh, doaku sangat sederhana: “Ya Allah, mudahkanlah dan lancarkanlah perjalananku ke Bandungan.”
Meski kereta Argo Bromo yang akan membawaku dari Gambir menuju Semarang berangkat jam 09.30, namun pagi, aku sudah berangkat ke Stasiun Bogor. Ransel di punggung yang berisi keperluan pribadi, 1 dos buah tangan untuk Dewi dan Putri di tangan kiri dan 1 dos buah tangan untuk teman-teman satu angkatan di tangan kanan. KRL sudah dijejali penumpang, namun aku paksakan naik. Menunggu kereta berikutnya sama saja bohong, sama penuhnya. Lagi pula, aku takut terlambat sampai di Gambir.

“Juno, rasain lu …, nggak dapat tempat duduk. Orang tua tidak tahu diri,” tiba-tiba terdengar suara hati kiriku.
Aku berdiri dihadapan seorang gadis yang sedang mendengarkan lagu melalui HP nya. Sepertinya, mahasiswi karena dipangkuannya ada beberapa buku. Ketika gadis tersebut melihatku, secara spontan berdiri.
“Silahkan duduk Pak.”
“Terima kasih.”
“Ha…, ha…, ha…, beruntung sekali ada malaikat menolongmu,” kembali hati kiriku berkata.
Aneh. Sepertinya, hati kiriku tidak rela aku dapat tempat duduk.

KRL mulai berjalan, berlari pelan dan akhirnya berlari dengan kecepatan konstan tanpa mengenal lelah. Setiap stasiun, KRL berhenti sejenak, menarik nafas sambil memberikan kesempatan penumpang yang tak tahu diri masuk ke perutnya yang sudah penuh.

“Juno, coba lihat penumpang yang berdiri di depanmu,” kembali hati kiriku bersuara.
Aku perhatikan seorang kakek, sepertinya lebih muda dariku, berdiri dengan lelahnya. Keringat membasahi mukanya yang kuyu. Satu tangannya memegang tiang penyanggah. Di punggungnya juga menempel rangsel. Di depannya, duduk laki-laki muda, pura-pura tidur.
“Laki-laki tidak tahu diri,” kata hati kananku.
“Bukan dia yang tidak tahu diri, tapi kamu dan lelaki tua dihadapmu. Sudah tua, kenapa tidak dzikir saja di rumah?” Suara hati kiriku menyangkal suara hati kananku.
Sekitar satu jam lebih sedikit perjalanan, akhirnya KRL sampai di satsiun Gondangdia. Sebenarnya kalau kereta terus langsung sampai di stasiun Gambir. Tapi, manajemen KAI lebih senang menurunkan penumpang di Gondangdia. Maklum stasiun Gambir merupakan stasiun untuk jarak jauh, tidak mau dipenuhi oleh penumpang yang turun dari KRL. Dengan rasa sakit yang kutahan, aku turun dari kereta.

“Ha…, ha…, ha…, asam uratnya kambuh, yaaa? Juno, lupakan reuninya, kembali saja ke Bogor. Mumpung masih di Gondangdia.”
Aku tidak menanggapi ocehan hati kiri. Aku berdiri sejenak di tepi rel. Berharap asam uratnya cepat berlalu.

“Bapak, mari saya bantu bawakan kedua dos nya,” kata penumpang yang juga baru turun dari kereta.
“Bapak mau mudik ya…?” katanya lagi lagi sambil berjalan.
Sambil berjalan sedikit pincang, aku mengikuti bapak yang tidak aku ketahui namanya.
“Yaa, mau ke Semarang.”
“Bapak naik bajaj ke Stasiun Gambir, ongkosnya Rp. 15.000,- .”
“Ha…, ha…, ha…, Juno, untuk kedua kalinya engkau diselamatkan malaikat.”
Kembali, aku diam, tidak mau melayani ejekannya. Alhamdulillah…, alangkah baiknya bapak yang aku tidak tahu namanya.

Sampai di Stasiun Gambar, mataku berkunang kunang melihat penumpang berjubel, berebut antrian.
“Ha…, ha…, ha…, Juno, bingung kan! Juno, engkau itu sudah tua renta. Berjalan saja sudah susah, apalagi ngurus tiket yang dikerumunan manusia yang tidak mengenal kemanusiaan,” hati kiriku kembali mengejekku.
Beruntung ada porter menghampiriku, membantuku dalam pengurusan tiket. Olehnya, aku diantar ke cafe.
“Bapak duduk di sini saja, minum kopi dan makan roti. Nanti pas jam keberangkatan kereta saya ke sini lagi.”
Sejatinya, apa yang dikatakan hati kiriku ada benarnya. Kemampuanku untuk mengurus diri sendiri sudah semakin menurun.

Lima belas menit sebelum keberangkatan, kereta memasuki stasiun.
“Bapak di kelas priority, gerbong 2, nomor duduk 3A,” kata porter.
“Ha…, ha…, ha…, Juno bersyukurlah engkau, ada malaikat ketiga yang membantumu.”

Priiiit…, tepat Jam 09.30, Kereta Agro Bromo Anggrek berangkat. Aku lihat dari jendela, para kru stasiun berjejer memberikan penghormatan dan mendoakan agar perjalanan kereta selamat sampai tujuan.
Seribu roda kereta berputar pelan, semakin lama semakin cepat. Deg…, dug…, deg…, dug…, deg…, dug… Suara roda kereta tiada hentinya bernyanyi dengan suara monoton. Nyanyian roda kereta kalah merdu dengan nyanyian kereta ketika aku masih kecil. Tuuuit…, tuuuit …, tuuuit… Ojo jajan…, ojo jajan…, ojo jajan… Ya…, itu suaranya. Aku tersenyum sendiri. Ingat masih kecil, masa penuh keprihatinan. Kala itu ibuku tidak mampu membelikan permen yang harganya hanya beberapa sen.

Tiang-tiang listrik, berlarian dengan cepat, menuju arah berlawanan. Setiap perlintasan, berbagai kendaraan berhenti dengan terpaksa, memandang dengan tidak sabar disertai rasa iri dan jengkel. Namun, kereta tidak peduli. Berjalan dengan angkuhnya. Hamparan sawah, rimbunnya hutan, birunya lautan, sesekali terlihat dari jendela kereta.

“Juno, nikmat betul perjalanmu,” hati kiriku mulai membuka percakapan.
Seperti biasa aku diam saja. Memang aku sedang menikmati fasilitas kelas priority. Perjalanan ternyaman yang pernah aku rasakan, mengalahkan layanan kala naik pesawat Garuda.

“Juno, apakah kamu masih belum sadar bahwa kamu sebenarnya tidak mampu lagi bepergian. Kamu hanya mengharapkan belas kasihan para malaikat. Betul tidak?” Kembali, hati kiriku mulai memberikan ceramah.
“Aku hitung, ada tiga malaikat penolongmu.”
“Terus kalau ada malaikat penolong, apakah salah?”
“Yaaa, tidak. Hanya aneh saja. Apakah setiap perjalanan harus meminta bantuan malaikat? Juno, jawablah dengan jujur, apakah kamu masih akan menghadiri menghadiri reuni tahun depan?”
“Tapi…?”
“Tidak usah pakai tapi-tapian. Berjanjilah Juno. Berjanjilah. Ini demi kebaikan dirimu sendiri. Dengan janjimu, aku tidak akan menggangumu lagi.”
“Baiklah, aku berjanji. Reuni ini yang pertama dan sekaligus yang terakhir. Ingat jangan ganggu aku lagi dengan ceramahmu!” Hati kananku berkata dengan kemarahan.

Nafasku terengah-engah, menahan marah. Jantungku berdetak dengan kerasnya. Aku ambil sebotol aqua yang berada di depanku. Lima teguk aqua dingin cukup memadamkan bara panas di hatiku. Aku pejamkan mataku sebentar sambil menunggu nafas dan jantungku normal kembali.

Aku keluarkan album kenangan yang aku sembunyikan puluhan tahun dari istriku. Foto bersama Dewi dan Putri masih terlihat jelas. Foto hitam putih berbaur dengan warna kekuningan. Alangkah cantiknya mereka berdua.
Yaaa…, itulah kenangan indah yang tidak terlupakan. Aku menjadi lelananging SMA Negeri Kendal, benar-benar sebagai Arjuno. Aku tersenyum sendiri.

“Juno…, teriak dua gadis berseragam SMA, putih dan abu abu. Dari jauh, mereka berlari menujuku. Berebut merangkulku, berebut menciumku. Yaaa, siapa lagi kalau bukan Dewi dan Putri .
“Dimana tempat pertemuannya?” tanyaku.
Dewi dan Putri menunjuk ruang reuni yang bercahaya sangat terang. Dewi memegang tangan kiriku, sementara Putri memegang tangan kananku. Mereka memegangnya dengan erat, sepertinya, takut kehilangan. Bertiga berjalan ke arahnya. Aneh, meski sangat dekat namun ruang tersebut tidak pernah kugapai.

Jumat, 10 Juni 2022

Persahabatan


 “Ra, ada Sinta tu di depan nyariin kamu, ditemuin gih. Dah nungguin dari tadi.” Sahut Tina pada Rara yang sedang mengerjakan tugas sekolah di rumah Rara.

“Bi, bilang aja aku gak ada, lagi diluar atau di mana gitu.” Pinta Rara pada Bi Inah yang bekerja di rumahnya.

“Iya, Non.”

“Kenapa kamu kaya gitu sama Sinta? Dia sudah datang jauh-jauh tapi malah kamu usir. Dia anak baik lho, Ra.”

“Iya dari luarnya memang baik, manis, ramah. Tapi apa hanya itu saja kamu mengukur sifat seseorang? Dari luar memang manis. Tapi dalamnya pahit.”

“Pahit gimana?”

“Dia sering ngomongin keburukan temannya sendiri di belakang. Banyak pokoknya Tin, yang tidak bisa aku jelaskan.”

“Lihatlah kamu ini. Judes, ceplas-ceplos sama aku. Tapi setidaknya hatimu tulus, Tin, bukan baik di luar tapi dalamnya busuk. Aku gak butuh tampilan luar orang dalam berteman.” Jelas Rara.

Rabu, 08 Juni 2022

Rajin Belajar


 Ini merupakan hari senin yang sangat cerah. Sesudah melaksanakan upacara bendera, para siswa memasuki kelas mereka masing-masing dan mendapatkan pelajaran dari guru mereka. Di hari ini, ada beberapa pelajaran yang harus didapatkan oleh siswa, yaitu Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, PPKN dan Matematika.

Mata pelajaran yang pertama adalah matematika. Bapak guru meminta kepada para murid untuk mengerjakan halaman 5 dan halaman 6. Ketika para siswa tengah mengerjakan tugas tersebut, suasana kelaspun menjadi sangat hening. Kemudian sesudah selesai, Bapak guru memberikan pesan kepada para siswa untuk mempelajari materi pembagian dan perkalian dengan soal cerita karena tes dadakan akan dilakukan sewaktu-waktu.

Pada siswa pun pulang setelah pembelajaran hari ini usai. Dwi, Rahma dan juga Tika pulang dengan jalan kaki bersama karena sekolah mereka tidak jauh dari rumah.

“Nanti bermain di rumahku yuk habis makan siang. Aku punya boneka baru hasil olah-oleh ibuku dari Bandung kemarin.” Pinta Rahma kepada dua temannya.

“Asyiikk.” Ungkap Dwi senang.

Bagaimana Tika, apakah kamu bisa ikutan?”

“Aku tidak usah ikut saja. Aku ingin belajar di rumah karena pesan dari Bapak guru tadi kan kita harus belajar sendiri karena tas dadakan akan dilakukan sewaktu-waktu.” Jawab Tika dengan wajah polos.

Setiba di rumah masing-masing. Tika langsung mengganti bajunya, kemudian makan siang, sholat dan istirahat siang supaya nanti malam dia bisa belajar dengan baik dan konsentrasi. Mengenai materi buku yang kurang memahamkan, sesekali ia bertanya kepada kakaknya.

Sementara Dwi dan juga Rahma asyik bermain hingga larut sehingga mereka pun tidak sempat mendalami materi. Keesokan harinya merekapun berangkat bersamaan. Sesampainya di kelas, ternyata Bapak guru benar-benar melakukan tes dadakan. Dwi dan Juga Rahma merasa sangat kebingungan mengerjakan soal. Sehingga merekapun mendapat nilai jelek. Dan akhirnya harus mengulang tes susulan.

Berbeda dengan Toka. Ia memperoleh nilai paling baik di kelas karena sudah belajar dengan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh sang guru. Dan Bapak guru pun meminta Dwi dan Rahma belajar kepada Tika.

“Wah, selamat yang Tika. Nilaimu maksimal. Besok-besok kita ikut belajar sama kamu ya.”

Selasa, 07 Juni 2022

Baik Luar Dalam

 




Di suatu siang yang cerah, dua orang gadis bernama Rara dan Tina tengah mengerjakan tugas sekolah di rumah Rara. Mereka mengerjakan dengan serius dan suasana nampak hening. Kemudian, seorang perempuan yang tidak lain adalah teman mereka berdua bernama Sinta. Namun, Rara seolah tidak mempedulikan kehadiran Sinta tersebut.

“Ra, itu di depan ada Sinta sedang nyariin kamu. Buruan kamu temui dia. Sudah sejak tadi dia nungguin kami di sana.” Ujar Tina yang tengah mengerjakan tugas di rumah Rara.

“Bi, bilang saja ke Sinta yang ada di depan rumah kalau aku sedang pergi kemana atau gak ada gitu ya.” Pinta Rara kepada Bibi yang bekerja sebagai pembantu di rumahnya.

“Iya Non. Bibi sampaikan.”

“Ra, kenapa kamu seperti itu sama Sinta. Dia pastinya sudah datang jauh-jauh. Kenapa kamu usir. Gak enak kan. Kasihan dia. Dia juga anak yang baik Ra.” Ujar Tina menasihati Rara.

“Dari luarnya dia memang orang yang baik, ramah dan juga manis. Tapi masa kamu mengukur sifat seseorang hanya dengan itu saja. Dia itu manis di luar namun di dalamnya pahit tahu.” Jawab Rara setengah sinis.

“Pahit gimana Ra?” Ujar Tina kembali bertanya.

“Dia itu sering membicarakan keburukan orang lain. Bahkan di belakang ia sering membicarakan temannya sendiri. Pokoknya banyak yang tidak dapat aku jelaskan Tin. Lihat saja diri kamu. Kamu memang judes, ceplas ceplos denganku. Namun setidaknya kamu memiliki hati yang tulus Tin. Bukan sahabat yang dari luarnya baik namun dalamnya busuk. Dalam berteman, aku tidak membutuhkan tampilan luar seseorang Tin.” Jelas Rara kepada Tina.